Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘mall’

Pada suatu hari di bulan Ramadhan, saya sekeluarga “terperangkap” di Pondok Indah Mall menjelang waktu berbuka. Semua warga Jakarta sudah mengetahui, bahwa jam-jam mendekat buka puasa adalah

jam macet, sehingga kami berusaha mencari tempat untuk berbuka di dalam Mall. Kami tidak punya kriteria mau makan apa, sehingga yang kami utamakan adalah tempat yang bisa direserve, kemudian yang cukup nyaman untuk anak-anak, serta yang paling penting adalah, menyediakan potongan harga.

Salah satu yang menyediakan potongan harga tersebut adalah Pho, vietnamese restaurant di restaurant row PIM 2. Kebetulan saya sudah lama tidak makan masakan Vietnam yang segar2 itu. Ketika tiba saatnya berbuka, kami disuguhi kolak dan teh manis, complimentary gratis dari restaurant. Setelah itu langsung kami menyantap makanan yang dipesan. Saya tidak ingat judul menu yang saya pesan, tetapi menunya adalah mi dengan irisan daging tipis2, ukuran regular (ada yang jumbo, mangkuknya besar sekali). Seperti yang saya sudah perkirakan, rasanya segar dan unik. Karena memang rasanya tidak sama dengan masakan Indonesia atau Cina. Benar-benar cita rasa Vietnam. Jusnya pun cukup unik, jus sawo,.. manis nikmat sebagai teman berbuka. Ada beberapa bumbu yang berbeda, namun karena pengetahuan memasak saya minim, saya tidak bisa memperkirakan apa bumbu tersebut.

Kami memesan 2 mangkuk mi, dan 1 porsi anak2, beserta 2 minuman, kami membayar sekitar Rp. 150.000 setelah potongan 25%.

Iklan

Read Full Post »

Tentu kita semua yang tinggal di Jakarta pernah mengunjungi gedung bertingkat, apakah itu hotel, perkantoran,ilustrasi atau ke mal. Untuk naik ketingkat atas, biasanya terdapat 3 pilihan: escalator, lift, atau tangga darurat. Yang paling laku tentu escalator atau lift.

Untuk naik ke tingkat yang agak jauh (beda lebih dari 1 tingkat) biasanya orang lebih mengidolakan lift daripada escalator. Hal ini dikarenakan bila menggunakan escalator, orang masih harus berjalan sedikit di lantai “ transit”  untuk menuju ke escalator “sambungan”. Sehingga di gedung yang tingkatnya cukup banyak, sering kita dapati kerumunan antrian menyemut di depan pintu lift, terutama di mal, di hari sabtu atau minggu.

Bila anda berada di dalam lift, keluar dari lift adalah suatu perjuangan, karena orang-orang yang menyemut di depan lift akan berlomba-lomba berdiri paling dekat pintu lift, dengan berusaha menghalangi orang yang berada di belakangnya agar tidak mendahului mereka masuk ke lift. Demikian pula dengan orang yang ada di belakangnya. Bila akhirnya bisa keluar, biasanya ruang yang tersedia adalah celah yang cukup muat untuk 1 orang. Bila kita membawa anak kecil yang masih di kereta, atau mungkin berada di kursi roda, maka celah ini memang agak sulit dilalui karena para pemberi celah biasanya enggan untuk memberikan celah yang lebih besar, karena takut diserobot  orang di belakangnya.

Bila anda berada pada kerumunan yang mau masuk ke dalam lift, masuk ke dalam lift adalah perjuangan. Kalau tidak ingin diserobot, anda harus menutup jalan para penyerobot, memperkecil ruang bagi mereka untuk “menyelip”, merangsek ke depan pintu lift. Salah satu cara yang paling efektif, bak penjaga gawang adalah memperkecil dan menutupi ruang gerak mereka. Karena badan kita tidak dapat menutupi daerah yang luas, maka konsekuensi logisnya adalah menutup ruang seefisien dan seefektif mungkin, yaitu berdiri amat sangat dekat sekali dengan pintu lift. Sebagaimana kita lihat di atas, cara ini sebenarnya merugikan bagi orang yang ingin keluar dari lift. Agar tidak mengganggu orang yang mau keluar dari lift tersebut, sebenarnya ada cara lain. Berdirilah pada jarak yang nyaman dari lift, yang tidak menghalangi orang yang mau keluar. BIla ada yang ingin menyerobot antrian, kita harus tegas menegur dengan mulut, atau kalau perlu dengan tangan dan kaki. Karena orang Indonesia lebih suka menghindari konflik, maka cara menutup pintu lift adalah yang paling sering dipraktekkan.

Perlu diketahui, bahwa para pengantri lift yang ingin masuk juga sama sekali tidak memperhatikan keadaan para pengantri lain. Tidak peduli apakah ada pengguna lift lain yang sudah tua, atau yang membawa kereta bayi atau kursi roda, mereka tidak akan memberikan prioritas pada orang-orang ini. Padahal orang-orang ini memang keadaannya mengharuskan mereka untuk menggunakan  lift. Akhirnya karena tidak tahan diserobot terus, sering ditemui para orang tua dengan kereta bayinya menggunakan escalator. Sungguh ironis, karena seharusnya yang menggunakan eskalator adalah orang-orang yang memenuhi lift tadi, yang sebenarnya tidak terlalu perlu harus pakai lift. Tidak ada kerugian berarti bagi mereka, jika saja mereka menggunakan eskalator, hanya mungkin bedanya mereka harus berjalan beberapa langkah untuk mencapai eskalator ke lantai berikutnya. Kenyamanan mereka naik lift dibayar dengan resiko yang diambil pembawa kereta dorong dan kursi roda dengan naik eskalator. Di beberapa negara hal ini tidak akan dibiarkan pengelola mal. Namun demikian, beberapa pengelola mal di Jakarta akan mencoba memprioritaskan orang-orang ini, walau pemandangan kereta naik eskalator tetap saja terjadi.

Jadi, bila anda di Jakarta, jangan harap para calon pengguna lift antri dengan tertib, menyadari kapan giliran masuk mereka, tanpa harus kuatir diserobot. Jangan berharap orang yang di dalam lift didahulukan untuk keluar. Tidak usah berharap bisa keluar dari lift dengan leluasa tanpa rintangan yang berarti. Jangan pula berharap bahwa kursi roda, orang tua dengan anak2, orang tua dengan kereta anak, dan orang yang sudah tua akan diperhatikan prioritasnya  Hal demikian hanya ditemui di tempat yang orangnya mengerti dan meresapi maksud dan tujuan dari adab mengantri.  Dan Jakarta bukanlah tempat semacam itu. Demikian pula beberapa kota lain yang memiliki etiket serupa di berbagai negara.

Read Full Post »

Baghdad. Ibu kota Irak yang sedang rusuh. Tapi Little Baghdad bisa ditemukan di Jakarta, paling tidak di dua tempat. Dekat Jalan Kemang Raya, dan Kelapa Gading (!), di Gading Batavia. Kalau dari arah Mall of Indonesia (halah.. saingan Mall of America) ke Mall Kelapa Gading, belok kiri sebelum Makro.

Sebenarnya niat masuk ke Little Baghdad ini nyari makanan untuk ibu hamil ngidam, Baclava. Suatu makanan selingan/kue yang dikenal di daerah timur tengah sana, dari Maroko sampai Irak. Tapi saya jarang lihat di Saudi, kalo ada yang jual ya kalo ga orang Turki, orang Irak atau Maroko.

Dari luar terlihat timur tengah sekali. Masuk ke dalam disambut dengan ramah oleh para pelayannya, dan dipersilakan duduk. Mulai terlihat bahwa tempat ini adalah tempat nongkrong dan kongkow yang kebetulan menyediakan makanan. Tempat duduk berbentuk sofa, mirip di warung kopi (starbucks). Juga sesekali asap dari shisa, tembakau bakar-hisap a la timur tengah yang harum namun tetap berhawa tembakau melintas di depan hidung.

Memang shisa ini adalah “hidangan” lain dari little baghdad. Konsepnya mirip ngerokok pake cangklong, tapi tembakaunya lebih banyak, asap dilewati dulu dari alat mirip botol besar (botol yang panjang tapi kurus) yang di dalamnya ada airnya. kita menghisap tembakau dari pipa panjang yang tersambung ke botol  tadi. Sedikit cerita, pertama kali saya mencoba shisha ini adalah dengan seorang rekan asal libanon di apartemennya, sekalian dicurhatin sama dia.. hahaha.. dan dari situ saya yang saat itu sudah mantan perokok 234 pun merasa bahwa shisha ini lebih keras di tenggorokan daripada yang dulunya biasa saya hisap. Dan ternyata benar adanya, bahwa shisha ini lebih beresiko daripada rokok biasa.

Sesaat stelah melihat menu2 yang disediakan di little Baghdad, saya melihat bahwa menu yang disediakan adalah mungkin “modernisasi” makanan timur tengah. Hal ini terlihat dari foto-fotonya, berbeda dengan yang disajikan teman-teman saya yang asli orang-orang timur tengah. Akhirnya saya memutuskan untuk memesan Baclava saja, karena sudah ditunggu oleh yang ngidam..

Baclava, seingatan saya, apalagi yang dulu biasa saya beli dari orang Irak di tokonya amatlah nikmat. Ada kriuk2nya, kriuk yang berbeda dari kriuk martabak telor, lebih mirip kriuk croissant. Pakai madu khusus, dan berbagai macam kacang2an yang digerus, salah satunya kacang mede. Nikmat untuk pencuci mulut. Bila mendapati Baclava yang terlalu manis, itu masalah selera yang buat. Kebetulan Baclava di toko orang Irak ini pas rasanya. Nah, yang dijual di Little Baghdad adalah versi modern-nya, baik dari bentuk (ga mirip lagi) dan rasa (masih ada miripnya). Kalau tidak salah harganya Rp. 35.000 untuk 5 potong kira2 sebesar pisang molen di pinggir jalan.

Memang pada akhirnya saya tidak mencicipi hidangan lain di Little Baghdad ini. Tempatnya memang enak untuk kongkow, namun bila yang dicari adalah makanan tradisional asli Irak, saya rasa bukan di sini tempatnya. Namun demikian, kalau ingin mendapat cita rasa makanan alternatif,.. ya mungkin boleh lah dicoba. Tapi mohon diingat, sampai saat ini saya hanya mencoba Baclavanya saja ya.. hehehe…

Read Full Post »