Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘makan’

Pada suatu minggu siang, saat di rumah tidak ada makanan karena memang tidak ada yang dapat dimasak (belum belanja), kami putuskan untuk mencoba salah satu rumah makan masakan India yang memang sudah lama kami incar. Untuk diketahui, waktu dulu tinggal di salah satu negara Eropa, kami adalah langganan dari suatu restoran masakan India yang dimiliki oleh orang Bangladesh. Sehingga sekali waktu ingin rasanya mencicipi kembali cita rasa asia selatan tersebut.

Berbekal ingatan, kami langsung meluncur ke arah Kemang. Lokasi restoran ini, bila dari arah KKO Cilandak, masuk ke jalan Ampera, terus ke arah McDonald’s Kemang, adalah di sebelah kanan. Tidak sulit untuk menemukannya, karena gaya bangunannya mengadopsi gaya India. Masuk melalui pintu utama, kita akan menemui tangga di sebelah kanan. Ikuti tangga tersebut, sampailah kita di Kinara. Sama halnya dengan bagian luarnya, bagian dalam dari restoran ini juga terlihat amat “india”. Bahkan menurut pelayannya, kayu kayu ukiran, sebagian meja dan perabot yang ada di sana memang di impor dari India.

f Menu diberikan dengan nama India aslinya. Namun jangan kuatir, bila cukup mahir berbahasa Inggris, kita dapat membaca deskripsi masakan tersebut yang tertulis dalam bahasa Inggris. Bila itu juga kurang mahir, para pelayannya yang orang Indonesia tulen dapat membantu menjelaskan. Di setiap meja disediakan kerupuk a la India, “Papadam”, dengan rasanya yang khas India.

Hati-hati bahwa Papadam yang disediakan ada 2 macam, yang “pedas” (pedas merica, bukan cabai), serta yang biasa. Untuk minuman, bila tidak yakin dengan deskripsi yang ada, saya sarankan pesan yang sudah biasa saja, seperti misalnya jus mangga, atau teh manis. Saya iseng mencoba minuman asli India seharga sekitar Rp. 18 ribu, dan ternyata setelah dicoba, saya tidak menyukainya. Ada rasa asam dan asin, serta pedas hangat ala merica. Mungkin minuman ini digemari di India, namun rasanya kurang cocok untuk lidah saya.

Selain Papadam, di meja tersebut juga disediakan 3 macam “sambal”. Saya berikan tanda kutip karena tidak semuanya pedas. Ada yang isinya peach/mangga (warna kuning), bahan dasar mint (warna hijau), dan satu lagi yang berwarna merah. Yang terakhir tidak saya coba karena tidak mau mengambil resiko bahwa sambal ini benar-benar pedas sementara saya sudah berkutat dengan pedasnya papadam dan minuman saya.
Menu yang saya pesan, namanya sudah tidak ingat lagi. India sekali. Namun yang saya ingat saya pesan 2 lauk, 1 kambing dan 1 ayam. Yang hidangan kambing berpenampakan seperti kalio yang di atasnya ada potongan paprika dan irisan keju. Rasanya tentu berbeda dengan kalio, khas dengan rasa rempah india yang “hangat”. Demikian pula hidangan ayamnya yang mirip. Untuk nasi kami pilih “biryani kashmiri”. Pilihan ini diambil karena di nasi ini ada beberapa potongan buah yang manis, cukup komplementer dengan hidangannya yang hangat pedas.  Sayang di restoran ini, menu makanan favorit saya, murg/lamb kashmiri tidak tersedia. Sepertinya memang masakan india yang ada potongan buah manisnya selalu menggunakan kata kashmiri. Kemudian, karena nasi yang dipesan porsinya kurang banyak, akhirnya pesan lagi roti india yang besar (nan). Untuk Nan ini pilihannya juga banyak, ada yang isi keju, kashmiri, dan lain lain. Saya sar
ankan untuk benar-benar berkonsultasi dengan pelayan agar tidak salah pilih menu. Citarasa India memang ada yang mirip dengan Indonesia, tetapi ada juga yang amat berbeda. Bila memilih dengan tepat, maka selera akan tergugah, kalau salah pilih, … hehehe.. entahlah…

Harga di restoran ini memang tidak bisa dikatakan murah. Untuk makan dan minum untuk 3 orang kami harus membayar 300-an ribu. Namun kalau tidak terlalu sering, rasanya cukup pantas untuk pengalaman, citarasa serta atmosfir berbeda yang ditawarkan restoran ini. Oh ya, jangan takut bahwa ini adalah resto India “palsu” (pakai nama India tetapi masakannya berbeda dengan yang asli di India, Ibarat sate disajikan dengan kentang goreng dan mayonaise). Pemiliknya menurut beberapa pelayan adalah etnis India, dan citarasanya memang mirip/sama dengan langganan kami si orang Bangladesh tadi.

Read Full Post »

Mendekati idul fitri, kami sudah tidak lagi memperhatikan persediaan bahan makanan di rumah. Sayang kalau belanja, karena beberapa hari terakhir ini, dan tentunya nanti beberapa hari setelah lebaran, kami (akan) sering nebeng makan di rumah sanak keluarga.. hehehe… Sehingga pada suatu sore, kami mulai mikir2 mau buka puasa makan apa. Hari masih menunjukkan jam 2 siang, tidak ada kerjaan, cocok sekali untuk sekalian jalan-jalan ngabuburit. Tapi karena lemas, malas rasanya jalan ke mall, karena harus jalan kaki, belum lagi mengejar2 2 anak balita.

Akhirnya teringat ada sebuah resto di komplek kampus UI Depok, yang suasananya enak untuk bersantai bersama anak2. Dari berangkat saya sudah tekadkan hanya akan beli dan bungkus makanannya untuk berbuka di rumah. Karena saya yakin (dan kemudian terbukti) bahwa Resto tersebut, “Gubuk makan Mang Engking” sudah full booked untuk buka puasa. Selain itu akan sulit bagi kami untuk menjaga para balita yang pasti akan terkesima dengan ikan2 mas yang ada di danau sekitar tempat makannya.

Mang Engking, terletak di dalam kompleks UI. Tapi aksesnya bukan dari Gerbang Utama. Kalau dari arah Jakarta, sampai di percabangan jalan Kelapa Dua-Margonda Raya-UI (+mutar balik ke Lenteng Agung), ambil lajur paling kanan, naik flyover, ambil kiri. jangan masuk ke gerbang UI (ada rambunya). 200/300 meter setelah putaran flyover, akan tampak halte bus UI. Bersiap untuk belok kiri, akan ada gerbang UI satu lagi, yang biasa digunakan kendaraan untuk keluar dari UI. Setlah masuk gerbang tersebut, langsung belok kanan, dan nanti sebelah kanan ada satpam, ambil kartu parkir, dan bayar.. Mang Engking akan terlihat di sebelah kiri jalan. Untuk jelasnya, klik di sini. Mang Engking ada di Jalan Lingkar Kampus Utara.

Pada dasarnya menu mang Engking itu adalah Udang, cumi, ikan. cara masaknya bermacam2 (asam manis, goreng, bakar kecap, bakar madu, dll) dan rata-rata enak. Namun favorit saya adalah udang goreng kering dan udang bakar madu. Udang bakar madu ini setahu saya cuma ada di mang Engking ini. Harus dicoba,.. rasanya manis-pedas, dengan rasa bakaran dan tentunya madu. Untuk 8 ekor udang besar bakar madu, dihargai Rp. 70-an ribu. Menu lainnya harganya kira2 sama dengan rumah makan seafood yang tidak mahal.

Selain menu bakar madunya, Mang Engking ini lokasinya nyaman.

Enak didatangi beramai2 untuk bersantai, karena gubuk2nya adalah gubuk panggung yang berada di atas danau yang banyak ikan masnya.. gede2 pula. Anak2 akan senang sekali, setelah makan, memberikan sisa kulit udang ke ikan2 tersebut.. Kalau mau sekalian olahraga, silakan bawa sepeda, track sepeda UI lumayan panjang.. hehehe..

Sebaiknya jika ingin makan di sini, telpon dulu, pesan menunya, baru kita datang. Dengan demikian makanan akan segera terhidang saat kita sampai.

Info lebih lanjut ada di akun facebooknya. Kampus UI, walau dikatakan di Depok, tetapi ujung utaranya berada di wilayah DKI Jakarta. Demikian pula halnya dengan Gubuk Makan Mang Engking ini.

Read Full Post »

Warteg “21”

warteg21 Warteg adalah singkatan dari “Warung Tegal”. Di Jakarta biasanya merupakan sebuah “rumah makan” sederhana, dan alat makan seperlunya, cukup bagi tamunya untuk datang, makan, dan pergi lagi. Ngobrol-ngobrol di dalam warteg juga ga enak karena jarak antar tamu kalau warteg sedang penuh ya kira-kira pada umumnya sekitar 30-50 cm. Semua percakapan kita ikut didengarkan seisi warteg.

Kata warung tegal sih kalau di Jakarta sih berasal dari warung nasi yang biasa dikelola orang dari Tegal. Itu dulu. Sekarang walau masih banyak yang dikelola orang Tegal, namun sudah banyak juga yang pengelolanya bahkan bisa dari luar pulau Jawa.

Warteg yang dibahas kali ini adalah Warteg dengan papan nama neon di depannya yang bertuliskan “Warteg 21” sebagai nama Warteg ini (biasanya Warteg ga ada namanya). Tahun 90-an Warteg ini memang juga belum ada namanya, sebagaimana Warteg-warteg lainnya. Namun setelah lama tidak makan di warteg ini, tiba-tiba sudah terlihat lebih rapih, bahkan dengan papan nama neon!… berarti bisnisnya lancar nih…

Warteg ini sudah lama bercokol di daerah ini, bersebelahan dengan SMU 21, Kayu Putih Jakarta Timur, dekat kantor kelurahan Kayu Putih, dekat Pacuan Kuda Pulomas, di antara Rawamangun dan Kelapa Gading. Karena sudah lamanya, warteg ini sudah lumayan dikenal warga sekitar, terutama siswa dan  lulusan sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya, yaitu SD 01, SMP 99 dan SMU 21. Saat ini, mungkin dikarenakan jalan di depannya lumayan luas sehingga dapat dijadikan lahan parkir (dengan tukang parkir berseragam) yang nyaman, banyak juga didatangi para supir taksi, selain  juga beberapa bapak-bapak necis yang mungkin biasanya makan di restoran sekelas minimal Satay Khas Senayan. Mungkin orang tua siswa. Selain itu terkadang ada juga anak-anak remaja berdandan “gaul” yang makan di sini. Walau berpakaian dan asesoris yang tidak murah, lauk yang mereka ambil paling hanya sayur, tahu dan tempe. Tebakan saya, mereka adalah pelajar sekolah sekitarnya yang uang jajannya terbatas.

Makanannya ialah sebagaimana halnya warteg lainnya. Ada ayam sayur, sayur tempe, tempe goreng, tahu goreng, bakwan udang, bakwan, ikan goreng, terong, dan lain sebagainya. Lumayan beragam untuk sekelas warteg. Rasa makanannya agak sedikit lebih “berasa” daripada warteg-warteg pada umumnya. Kalau merasa rasanya kurang “menggigit”, disarankan untuk menambahkan kecap manis yang tersedia di meja, atau minta sama pelayannya.. akan ada peningkatan rasa yang cukup signifikan walau kecapnya hanya sedikit.

Harganya tidak diketahui dengan pasti, karena tidak ada daftar harganya, tetapi makan dengan nasi, lauk sayur nangka, bakwan udang, tempe dan telur pedas, serta minum es teh tawar (pahit?) dikenakan bayaran Rp. 9000 (kurang dari US$1). Lumayan murah dibandingkan misalnya beli ayam bakar di seputaran Jakarta Selatan, yang dihargai Rp. 15.000-an untuk nasi,lalap dan sepotong ayam (paha bawah dan atas).

Terakhir, ini warteg.  Jangan dibandingkan dengan restoran makanan rumah di level yang lebih tinggi, karena pada umumnya, tambah kualitas, tambah biaya. walau juga tidak menutup kemungkinan bertemu restoran mahal namun rasanya ga keruan. Ditanggung tutup dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.

Read Full Post »