Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2009

Definisi “band”

Band. Apa sih tuh? sama kah dengan boys band? kata orang sih boys band itu adalah sekumpulan anak muda, jenis kelamin lelaki yang tergabung dalam 1 grup, bikin album nyanyi dan jadselebritis. Banyak contohnya yang kelas dunia, banyak juga contohnya yang kelas lokal Indonesia. Sayangnya beberapa anggota grupnya nyanyinya pas-pasan, numpang pasang tampang doang.

Ada lagi yang bentuknya grup juga, tapi yang punya peran utama nyanyi cuma satu orang. Yang lain perannya mainin alat musik. Biasanya ada 1 pemain gitar, 1 pemain drum, dan satu pemain bas. Alternatif lain ada pemain gitar satu lagi, dan/atau pemain keyboard. Bisa juga si penyanyi juga sekalian megang alat musik seperti di grup Metallica. Pemegang alat musik yang lain kalo kebetulan bisa nyanyi, boleh juga nyanyi, bahkan ada band yang semua anggotanya bisa nyanyi, jadi sekalian paduan suara seperti the Beatles. Kalo menurut saya, kategori ini lah yang disebut “band”.

Agar tidak membingungkan, harusnya boys band diberi label “vokal grup pria” aja. Lebih pantas. Kalo boys band itu harusnya band seperti Metallica, isinya cowo semua, ga boleh ada cewe. Kalo cuma nyanyi bareng sih cukup “vokal grup” atau “kelompok bernyanyi” saja.

Band & musik

Biasanya band itu membawakan lagu ciptaan mereka sendiri. Aliran musik band ini bisa bermacam-macam, tapi biasanya mengikuti trend yang berlaku pada zaman saat band itu berjaya. Misalnya, tahun 70-an band yang ada, lokal maupun internasional bergaya classic rock, taun 80-an heavy metal, taun 90-an grunge atau indy, taun 2000-an, meminjam istilah Ir. Soekarno, musik ngak-ngik-ngok… lembek kaya tempe..

Di kancah musik internasional, sudah jarang saya mendengar band-band baru yang berkarakter. Maksud berkarakter adalah musik mereka tetap berada dalam aliran tertentu, namun memiliki karakter sendiri, yang kalau lagu mereka diperdengarkan akan mudah mengetahui itu dari band mana, dan walau ada ciri khas, tidak membosankan karena terdapat perbedaan yang signifikan antar lagu-lagunya, dengan tetap membawa ciri khasnya. Contoh band-band berkarakter ini misalnya, Queen, Metallica, Red Hot Chilli Peppers, Nirvana, Genesis, the Police, U2, dll.

Di Indonesia sayangnya band-band berkarakter ini juga sedikit jika dibandingkan dengan yang ga berkarakter. lebih parah lagi, beberapa minggu terakhir marak berita yang mengatakan bahwa beberapa band Indonesia tidak hanya tidak berkarakter, tetapi tukang plagiat. Sudah lama saya tidak menyaksikan band sekelas Slank ataupun Dewa19 muncul ke permukaan. Karakter musik mereka kuat sebagaimana band-band serupa di dunia internasional di atas.

Musik Indonesia yang monoton

Monoton? kan setiap lagu beda? … wah ga juga kayaknya. Masih ingat akhir dekade 80-an dan awal 90-an waktu slow rock ngetop? hampir semua menelurkan lagu yang mirip-mirip, aransemen dan nadanya. Sekitar tahun-tahun itu juga sempat grup-grup musik cadas bermunculan dengan skill memainkan alat musik yang cukup bagus memainkan lagu heavy metal, dengan model rambut gondrong dan vokalis yang suaranya tinggi. Lirik,.. hmm… tidak ada perubahan berarti sejak tahun 70-an.. masih garing-garing aja..

Bagaimana dengan 2000-an? makin parah sepertinya. Hampir semua band yang baru bermunculan gaya musiknya sama! dandanan pun hampir sama. Sempat suatu kali di acara tv, saya tidak menyadari bahwa sudah ada 2 band yang tampil, sementara saya masih mengira bahwa itu adalah band yang sama, karena gaya lagu, gaya menyanyi, pelafalan lirik, bahkan suara vokalis mirip! Pada kesempatan yang lain, pernah pula mendengar album sebuah band, sudah lebih dari 3 lagu yang diputar, namun saya mengira masih mendengar lagu yang sama karena yang berbeda cuma liriknya! liriknya juga ga berubah, cengeng, cinta, dkk, jarang yang bertema berbeda seperti misalnya, lagu “persahabatan” dari Sindentosca.

Barusan saya search di youtube untuk mendengar musik dari  band-band baru ini, dan mendapati gaya musik dan cara menyanyi para vokalis sekarang bersumber pada 2 band yang kebetulan cukup berkarakter. Sekitar tahun 90-an, waktu musik Indonesia yang sudah mandeg tidak ada angin segar, muncul sebuah Band, Sheila on 7. Saat itu band ini membawa angin segar dengan aransemen musik yang berbeda dengan zamannya, ringan, sederhana, enak didengar, berbeda. Suara vokalis juga pada saat itu tidak mainstream (mellow, empuk, falsetto). Karakter ini lah yang saya dengar dicopy dan dipaste oleh banyak band, menjadi mainstream, sampai pada tingkatan yang membuat band aslinya menjadi kurang karakternya. Bukan salah Sheila on 7, tetapi gaya mereka ditiru oleh hampir semua band. Gaya menyanyi sang vokalis, Duta,  juga ditiru! Namun tidak mentah-mentah.. gaya vokalis Sheila on 7 ini kemudian dipadukan dengan gaya menyanyi Armand Maulana, vokalis Gigi, dengan pelafalan liriknya yang khas. Terbentuklah gaya menyanyi a la band lokal Indonesia dekade pertama abad 21.

Lirik? masih ada yang cukup bagus, tapi yang parah banyak. Temanya monoton, sebagaimana telah tersebut di atas, cinta, cinta dan cinta. Oke lah, di luar negeri sana juga cinta, cinta dan cinta. Tetapi lirik yang dipilih lumayan artistik. Tidak langsung to the point mengarah ke cinta, namun membuat metafora, perumpamaan, dan lain sebagainya.

Akhirnya kalau beli musik band Indonesia, cukup dilakukan dengan tutup mata dan telinga. Kemungkinan besar musik dan vokalnya sama kok, kecil  kemungkinan deh salah beli..

Iklan

Read Full Post »

“Gila.. ga punya NPWP kena fiskal 2,5 juta!” demikian reaksi seorang kenalan yang harus berangkat ke luar negeri yang NPWPnya ga keluar-keluar kendati sudah diurus berbulan-bulan.

Seperti yang kita ketahui, peraturan yang berlaku saat ini ialah bila seseorang ingin pergi ke luar negeri, bila ia tidak memiliki NPWP harus membayar 2,5 juta rupiah untuk pesawat, dan 1 juta untuk kapal laut. Yang memiliki NPWP tidak harus bayar apa-apa. Sebelum 2009, semua dipukul rata harus bayar 1 juta rupiah.

Lantas apakah “mentok” di situ? ternyata tidak. Dari sebelum 2009, fiskal yang dibayarkan setiap ke luar negeri itu erat hubungannya dengan pajak penghasilan yang dibayarkan pertahun, sebagaimana contoh berikut:

Seseorang terkena pajak penghasilan setahun 6 juta,

ga punya NPWP.

Setahun itu dia ke luar negeri 2 kali = 2X 2,5 juta = 5 juta.

Pajak yang dia bayarkan pada akhir tahun efektif hanya 1 juta saja yang merupakan hasil dari pajak yang dikenakan (6 juta) dikurangi fiskal yang sudah dibayarkan (5 juta). Sehingga sebenarnya tidak ada pengaruh dari total pajak yang dia bayarkan tahun itu. Dengan memiliki NPWP, seseorang akan bayar total pajak pada akhir tahun sedangkan yang tidak punya NPWP “mengangsur” pembayaran pajak penghasilannya setiap dia pergi ke luar negeri.

Dalam kasus di atas, gimana kalo pajak penghasilannya lebih kecil dari fiskal yang sudah dibayarkan? bisa diminta lagi selisih duitnya ke kantor pajak.

Mendengar penjelasan ini, kenalan di atas tadi agak tenang dan tersenyum kembali — karena akhirnya jumlah total yang dia bayarkan pada akhir tahun sama saja.

Keuntungan yang didapat kantor pajak adalah, bila orang tersebut tidak terdata di kantor pajak, berpenghasilan di atas nisab tapi ga bayar PPh, orang itu dipaksa bayar 2,5 juta setiap berangkat ke LN. Orang yang terdata di kantor pajak kalau memang penghasilannya ga sampai nisab sebenarnya tidak perlu takut karena uangnya dapat diminta kembali.

Read Full Post »

Semenjak disuruh diet dan makan makanan sehat oleh dokter, sekarang kalau jajan prioritas saya adalah cari ikan. Menakjubkan sekali, jarang ada restoran di Jakarta yang spesialisasinya ikan. Kalau terus-menerus ke cikini, ke Ny. Filly, rasanya kurang nyaman harus bermacet-macet ria di jalan menuju ke sana. Walhasil, dengan semangat yang agak kendor saya meluncur ke Gading Batavia, mau menyerah, mau makan iga panggang panglima yang sayangnya belum sempat saya ulas di sini. Terakhir makan di sana, hmm nikmat… hanya saja saya dapati tokonya disegel!

imag0169Dengan semangat yang makin mengendor, sudah bertambah malas mencari2, tiba-tiba mata saya tertuju pada poster yang dipajang oleh toko yang letaknya berselang 1 toko lain dari tempat iga panggang panglima yang disegel itu. Ikan!! Ikan Tim!! salah satu cara mengolah ikan yang paling sehat pula!! Dengan semangat yang mulai naik, saya datangi toko itu, dan mendapati namanya adalah “Tha San”, yang menyediakan masakan khas batam.

Setelah saya perhatikan lebih lanjut, restoran ini menyediakan masakan sayur dan ikan, pas sekali dengan gaya hidup sehat yang dianjurkan dokter. Akhirnya dengan suka cita saya segera memesan ikan tim sawi asin yang besar. Ikannya  adalah ikan kakap yang di tim. Rasanya nikmat.. susah untuk saya gambarkan, yang pasti ada rasa asinnya, namun asin yang pas, bukan asinnya ikan asin atau telur asin. tentu ada bawang putih, dan ada satu rasa lain yang tidak dapat saya identifikasi.. mirip tauco, tapi bukan..

Harganya cukup standar lah, Rp. 40.000 untuk yang porsi besar. Porsi besar ini kira2 ukuran ikannya sepanjang 20-25 cm, dan dagingnya cukup banyak.

Intinya saya puas dengan rasanya. Yang perlu dicatat dari restoran ini, mirip dengan resto ikan bakar rica ny. Filly di atas, termasuk yang menyediakan ikan dengan gaya masak yang berbeda dengan kebanyakan resto-resto lain yang meyediakan menu ikan. Resto ikan lainnya biasanya menyediakan masakan ikan goreng, dibakar dan dimakan dengan bumbu kecap/sambal, di cah. Jarang resto ikan yang menyediakan bakar rica, sop, tim, steam, pedas manis, asam manis, dll.

Pantas lah dicoba, apalagi bagi yang mencari variasi masakan ikan..

Bentuknya jadi amburadul karena di rumah tidak ada piring panjang

Bentuknya jadi amburadul karena di rumah tidak ada piring panjang

* ada lagi ikan gurame steam yang cukup nikmat, di bakmi kebayoran, dekat Radio Dalam arah Velbak, namun belum sempat saya ulas. Foto pun tak ada karena dapat ditraktir tiba-tiba.. hehehe…

Read Full Post »

Mengejutkan!! susah deh sekarang cari iga panggang gaya tony roma’s dengan harga kaki lima..

Read Full Post »