Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2010

Tadi siang berkesempatan nyobain restoran ini, yang memang sudah lama direkomendasikan oleh adik saya. Sebelumnya saya juga sudah sempat browsing mencari informasi mengenai restoran ini di internet. Berikut adalah salinan dari http://ariep.multiply.com/photos/album/184/Nasi_Kebuli_Restoran_Puas_Ibu_Hj._Maryam_Condet, yang ulasannya sudah amat lengkap dan saya setuju dengan ulasan tersebut. Daripada nulis ulang, mending copy paste aja. Sengaja saya paste di sini sekalian, siapa tahu websitenya menghilang:

“Sepulang nganter Pake ke PO Kramat Jati di daerah Cililitan, gue dan Erna melipir ke area Condet buat Makan Siang. Dari Kramat Jati lewat Jl. Batuampar, ngelewatin Dodol Ibu Mamas di kiri jalan yang jual lauk2 juga, rame banget orang pada Makan Siang. Setelah mentok di Jl. Condet Raya kita berbelok ke kanan, nggak jauh dari situ udah keliatan RM Puas di kiri jalan, tapi kita coba terus aja nyari RM Pak Thalib Mussawa yang menunya seru2 juga. Ga jauh dari Puas ada Masjid As Shadiqqin yang ternyata di halamannya ada Sate Balibul dan Ada Nasi Megono Pekalongan yang jual Kue Kamir juga, jual beberapa menu timur tengah juga. Setelah agak jauh, kok nggak ketemu2 ya Thalib Mussawa, ya udah karena keburu laper, kita ke RM Puas aja yang udah pasti tempatnya.

Resto ini nggak terlalu besar, ada sekitar 7 meja + 3 Meja Lesehan, siang itu ada 2 meja saja yang terisi. Kita mesen Pastel dan Sambosa untuk pembuka, Roti Canai + Kari Kambing utk post pembuka dan 2 Nasi Kebuli utk main coursenya.

Yang pertama datang malah Roti Canai Kari Kambingnya. Roti Canainya Fluffy banget dan ga terlalu berminyak, karena pas selesai digorek si Canai ini ditepok2 pake kertas minyak, selain untuk nyerap minyak juga untuk bikin teksturnya rada hancur biar gampang disobek. Kuah karinya enak banget, mantep dan rich, pas buat dicocolin Canai, dagingnya juga empuk, sayangnya cuman ada 1 daging berukuran sedang , memang didapuk buat menu pembuka, kalau buat main, kurang kenyang bos.

Pastel dan Sambosa menyusul , datang dalam keadaan panas, jadilah gue potong ditengah biar ga terlalu panas. Sambosa segitiga berisi adonan bawang bombay dan daging sapi cincang dengan bumbu kari yang cukup kuat, enak banget luarnya crispy dalemnya penuh aroma. Untuk pastelnya isinya agak beda, ada sayuran, daging dan telur tapi berbumbu kari juga, dan isinya banyak banget jadi pastelnya padet , makan 3 juga kenyang ni hehe.

Setelah itu yang ditunggu2 datang, Nasi Kebuli Kambing, Nasi dengan aroma khas ini penuh dengan kismis dan potongan kenari disana-sini di topping dengan 3 potong kambing goreng yang menebar aroma wangi kemana-mana. Rasa nasinya cukup decent bukan ala Nasi Kebuli Jatim yang agak manis, kalau yang ini cukup gurih tanpa rasa kecap manis, yang bikin seru adanya komponen manis dari kismis dan wanginya kenari, seru banget, apalagi Kambing gorengnay juga empuk banget. Yang paling pas nemenin Nasi Keb ini apa lagi kalau bukan Acar Nanas, yang spicy asam segar, selain nanas ada timun dan tomat juga. Saking sukanya gue sama acar model ini, akhirnya jatah acar Erna pun gue akuisisi dengan sukses.

Habis yang gurih2 asiknya yang manis2 bukan, akhirnya kita pesan Es Kopyor tanpa susu, segelas aja buat berdua, ngirit bin romantis hahahaha. Kopyornya banyak banget dan bagus kualitasnya, cocok banget. Setelah makan kita celingukan kesana kemari, liat si Mas bikin Martabak, yang ternyata 2 lapis, dia bikin martabak dengan 3 telur dulu baru nanti dibungkus lagi dengan martabak 2 telur, weh baru denger ada martabak versi lapis legit gitu hehehe, kayaknya seru.

Liat2 di Menu ada minuman sehat yang namanya Bolion (mungkin dari Buillon) yang isinya Kaldu ayam, Telur Ayam Kampung dan Rempah , hee Viagra timur tengah kali ye kebayang minuman tapi gurih kaldu ayam + rempah, kayak sop kali ya bo.

Selain menu diatas, Resto ini juga menyediakan nasgorkam, Roti Jala, Kare Ayam, Kebuli ayam, Sate Kambing, Tahu Telor, Gado-gado dan Ayam goreng, untuk Snack ada Srikaya dan untuk minuman ada Teh Susu Arabia, yang kayaknya sih sealiran ama Chai Masala

Makan berdua kenyang banget abis 70an ribu. Nasi Kebuli dibandrol 20K, pastel dan sambosa dibandrol @ 2000, Canai + Kari Kambing 13K dan Es Kopyor Tanpa Susu 13K. RECOMMENDED

Pulang dari sini kita mengarah ke TB Simatupang nyusurin Jl Raya Condet, ternyata kita nemu RM Thalib Mussawa di kanan jalan dengan menu Gulai Merah dan Gule Kacang Ijo lalu ada Nasi Krawu Gresik dan Nasi Madura, di warung lain di kiri jalan, dan masih ada beberapa brand Nasi Kebuli Lain. Wah baru tau kalau Condet Raya udah berubah jadi jalan ramah wiskul gini heheh, lain kali pasti nyoba Thalib Mussawa dan Nasi Krawu/madura itu, yuk yuk nyobain bareng2

1. Jl. Raya Condet No. 78, Dekat Masjid As-Shadiqin, Jaktim
2. Jl. Jatiwaringin Raya No.7 (depan Waringin Permai), Jaktim
3. Jl. Lapangan Bola No. 5 Kebun Jeruk , Jakbar””

Ada beberapa foto di web page yang saya kutip ini. Yang di atas adalah foto yang saya ambil sendiri.

Read Full Post »

Fish & Co

Pada suatu ketika, di rumah tidak ada makanan, anak dan istri sedang ingin sekali keluar rumah, saya berinisiatif mengajak mereka jalan-jalan ke mal pondok indah. Kenapa mal? karena tidak ada taman terbuka yang nyaman di Jakarta. Taman monas? kurang terawat, terlalu banyak pedagang yang merusak pemandangan. Tidak ada taman-taman seperti di bawah ini, yang nyaman, rindang, enak melepas anak2 berlari-lari tanpa setiap saat perhatiannya tercuri oleh para pedagang makanan, minuman dan mainan, tanpa harus setiap 10-15 menit berusaha menolak dengan sopan tawaran tukang foto keliling:

taman

Keterangan: Gambar taman-taman ini dicomot secara acak dari internet.

Karena ternyata hari Sabtu  itu jalanan agak tersendat, akhirnya kami sampai di lokasi sedikit lewat jam makan siang. Akibatnya semua sudah lapar. Setelah istri menghubungi kakaknya yang sering jajan di daerah Jakarta Selatan melalui BlackBerry Messenger (peer pressure Indonesia membuat istri saya akhirnya mempensiunkan HTC Touch miliknya), kami memutuskan untuk mencoba salah satu restoran yang ada di Mal PI 2, restaurant row, Fish & Co (selain itu setahu saya juga ada di cilandak townsquare dan pacific place).

Setelah memilih-milih menu (yang ternyata juga memiliki pilihan steak), saya pilih fish & chips. Selain lebih sesuai dengan anjuran dokter, juga ingin membandingkan dengan fish & chips yang di jual di negara asalnya. Beberapa kali saya mencoba fish & chips di Indonesia, rasanya masih kurang pas.  Istri dan anak-anak memesan “seafood campur”… lupa apa namanya di menu, tapi kira2 penamaan saya ini sudah lumayan mendeskripsikan menu ini. Ada udang, cumi, kerang, fillet ikan, yang disajikan dengan kentang dan nasi yang sepertinya dibakar setelah ditanak. Porsi ini lumayan besar, bahwa yang mereka katakan cukup untuk 2 orang, sebenarnya bisa cukup mengisi perut 3 orang Indonesia.

Fish & Chips pesanan saya rasanya cukup mendekati yang asli. Baru sekali ini saya tidak keberatan dengan rasa dan penyajian makanan serupa di Indonesia. Ikannya empuk (jauh dari rasa ikan goreng kering yang biasa kita temui di warteg), pembumbuannya tepat, tidak terlalu asin, dan dapat kita siram sendiri dengan perasan jeruk. Demikian pula kentang chipsnya, potonganya besar-besar, bagian keringnya pas, tidak terlalu banyak, dan dalamnya empuk.  Seafood campur, juga lumayan. Bahkan nasinya yang berwarna kuning tadi, mengingatkan saya kepada suatu sore di pier di Barcelona,  di mana kami menikmat hidangan Paella. Memang rasanya tidak terlalu mirip (memang Fish & Co tidak mengatakan bahwa ini adalah Paella), namun cukup komplementer dengan seafood campurnya. Sejauh ini, ini adalah nasi yang rasanya paling mirip Paella yang pernah saya makan di negara yang bukan asalnya.

Harga, hmm.. lebih mahal dari kelas food court, dan tentunya sekelas dengan restoran-restoran di restaurant row lainnya. Ditambah minum, kami membayar sekitar Rp. 200.000,- (tidak ingat tepatnya). Namun untuk rasa yang ditawarkan, rasanya tidak terlalu berat untuk berpisah dengan Rp. 200.000 tersebut. Porsi cukup besar, sehingga ditanggung kenyanggg…yah tapi ga sering2 deh.. ntar bangkrut.. hehehe..

p.s. Kami sekeluarga pernah makan di suatu tempat dengan membayar lebih dari Rp. 200.000, tidak kenyang, rasa mengecewakan. Fish & Co bukanlah tempat semacam itu..

Read Full Post »

Tentu kita semua yang tinggal di Jakarta pernah mengunjungi gedung bertingkat, apakah itu hotel, perkantoran,ilustrasi atau ke mal. Untuk naik ketingkat atas, biasanya terdapat 3 pilihan: escalator, lift, atau tangga darurat. Yang paling laku tentu escalator atau lift.

Untuk naik ke tingkat yang agak jauh (beda lebih dari 1 tingkat) biasanya orang lebih mengidolakan lift daripada escalator. Hal ini dikarenakan bila menggunakan escalator, orang masih harus berjalan sedikit di lantai “ transit”  untuk menuju ke escalator “sambungan”. Sehingga di gedung yang tingkatnya cukup banyak, sering kita dapati kerumunan antrian menyemut di depan pintu lift, terutama di mal, di hari sabtu atau minggu.

Bila anda berada di dalam lift, keluar dari lift adalah suatu perjuangan, karena orang-orang yang menyemut di depan lift akan berlomba-lomba berdiri paling dekat pintu lift, dengan berusaha menghalangi orang yang berada di belakangnya agar tidak mendahului mereka masuk ke lift. Demikian pula dengan orang yang ada di belakangnya. Bila akhirnya bisa keluar, biasanya ruang yang tersedia adalah celah yang cukup muat untuk 1 orang. Bila kita membawa anak kecil yang masih di kereta, atau mungkin berada di kursi roda, maka celah ini memang agak sulit dilalui karena para pemberi celah biasanya enggan untuk memberikan celah yang lebih besar, karena takut diserobot  orang di belakangnya.

Bila anda berada pada kerumunan yang mau masuk ke dalam lift, masuk ke dalam lift adalah perjuangan. Kalau tidak ingin diserobot, anda harus menutup jalan para penyerobot, memperkecil ruang bagi mereka untuk “menyelip”, merangsek ke depan pintu lift. Salah satu cara yang paling efektif, bak penjaga gawang adalah memperkecil dan menutupi ruang gerak mereka. Karena badan kita tidak dapat menutupi daerah yang luas, maka konsekuensi logisnya adalah menutup ruang seefisien dan seefektif mungkin, yaitu berdiri amat sangat dekat sekali dengan pintu lift. Sebagaimana kita lihat di atas, cara ini sebenarnya merugikan bagi orang yang ingin keluar dari lift. Agar tidak mengganggu orang yang mau keluar dari lift tersebut, sebenarnya ada cara lain. Berdirilah pada jarak yang nyaman dari lift, yang tidak menghalangi orang yang mau keluar. BIla ada yang ingin menyerobot antrian, kita harus tegas menegur dengan mulut, atau kalau perlu dengan tangan dan kaki. Karena orang Indonesia lebih suka menghindari konflik, maka cara menutup pintu lift adalah yang paling sering dipraktekkan.

Perlu diketahui, bahwa para pengantri lift yang ingin masuk juga sama sekali tidak memperhatikan keadaan para pengantri lain. Tidak peduli apakah ada pengguna lift lain yang sudah tua, atau yang membawa kereta bayi atau kursi roda, mereka tidak akan memberikan prioritas pada orang-orang ini. Padahal orang-orang ini memang keadaannya mengharuskan mereka untuk menggunakan  lift. Akhirnya karena tidak tahan diserobot terus, sering ditemui para orang tua dengan kereta bayinya menggunakan escalator. Sungguh ironis, karena seharusnya yang menggunakan eskalator adalah orang-orang yang memenuhi lift tadi, yang sebenarnya tidak terlalu perlu harus pakai lift. Tidak ada kerugian berarti bagi mereka, jika saja mereka menggunakan eskalator, hanya mungkin bedanya mereka harus berjalan beberapa langkah untuk mencapai eskalator ke lantai berikutnya. Kenyamanan mereka naik lift dibayar dengan resiko yang diambil pembawa kereta dorong dan kursi roda dengan naik eskalator. Di beberapa negara hal ini tidak akan dibiarkan pengelola mal. Namun demikian, beberapa pengelola mal di Jakarta akan mencoba memprioritaskan orang-orang ini, walau pemandangan kereta naik eskalator tetap saja terjadi.

Jadi, bila anda di Jakarta, jangan harap para calon pengguna lift antri dengan tertib, menyadari kapan giliran masuk mereka, tanpa harus kuatir diserobot. Jangan berharap orang yang di dalam lift didahulukan untuk keluar. Tidak usah berharap bisa keluar dari lift dengan leluasa tanpa rintangan yang berarti. Jangan pula berharap bahwa kursi roda, orang tua dengan anak2, orang tua dengan kereta anak, dan orang yang sudah tua akan diperhatikan prioritasnya  Hal demikian hanya ditemui di tempat yang orangnya mengerti dan meresapi maksud dan tujuan dari adab mengantri.  Dan Jakarta bukanlah tempat semacam itu. Demikian pula beberapa kota lain yang memiliki etiket serupa di berbagai negara.

Read Full Post »