Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2009

Judul boleh “ayam” tulang lunak… tapi menu juga terdapat bebek dan ikan, semuanya dipresto. Presto adalah suatu proses memasak makanan selain dengan panas, juga dengan tekanan tinggi. “panci” tempat masaknya punya penutup yang erat sehingga udara panas di dalamnya menaikkan tekanan jauh lebih tinggi dari yang kita rasakan sehari-hari. Salah satu efeknya adalah melunaknya tulang-tulang yang ikut dimasak, sehingga bila dimasak dengan waktu yang cukup, tulang akan menjadi sedemikian lembut seperti halnya daging ayam yang bisa dimakan. Rasanya lumayan gurih.

Menu di sini seperti layaknya restoran ayam pada umumnya berkisar antara ayam bakar dan goreng. Juga bebek bakar dan goreng. Sayur yang ditawarkan adalah kangkung, sayur asem, dst. Selain a la carte juga ada paket, sudah lengkap dengan  nasi, sayur dan ayamnya. Sebagai contoh, paket ayam bakar, sayur asem, nasi putih adalah Rp. 25.000.Rasanya tidak mengecewakan.

Yang unik di sini adalah bandeng presto dalam sarang. Awalnya ga kebayang, sarang bandeng tuh kayak apa sih? ternyata maksudnya adalah bandeng prestonya terbungkus suatu jenis makanan yang bentuknya menyerupai sarang burung! menurut seseorang ini, (juga ada fotonya), sarangnya tersebut terbuat dari telur.  rasanya seperti bandeng presto pada umumnya, gurih, nikmat sekali dengan sambal. Sarangnya ini memberikan sensasi “kriuk” pada setiap gigitan, harganya kalau tidak salah Rp. 30.000 per ekor. Termasuk murah nih,.. apalagi setelah sempat mencoba sebuah resto Thailand dan kena Rp.500.000 lebih untuk 5 orang (yang satu abis pasang beugel gigi dan ga bisa makan banyak), ga kenyang pula… hehehe….

Lokasinya ternyata ada banyak, terdapat di beberapa kota lho…  di Jakarta aja ada di beberapa tempat, antara lain Jl. Gunawarman (dekat KFC, dan Prodia), mal ambassador, Kelapa gading. Di kelapa gading sendiri ada 3 tempat, di Gading Batavia dekat makro, di mal kelapa gading dan di Boulevard kelapa gading (dari arah perintis kemerdekaan, melewati bundaran, mal, lampu merah, terus lagi dan ada di sebelah kiri sebelum pondok pangandaran resto seafood).

Iklan

Read Full Post »

Ke tempat penjual nasi uduk di Jakarta ada beberapa macam. Ada yang dengan kuah kacang, kerupuk merah dan sedikit mihun. Ini biasanya di jual pagi-pagi untuk sarapan. Sedangkan yang dijual malam-malam sedikit lebih unik.

Saat kita masuk ke tempat nasi uduk ini, yang pertama kali ditemui adalah semacam etalase yang berisi makanan-makanan yang sudah dibumbui, siap di goreng. Kita akan diberi sebuah piring yang agak besar, sebagai tempat untuk meletakkan makanan-makanan tadi yang kita pilih sendiri untuk digorengkan. Lalu kita menunggu di meja. Makanan yang yang tadi digorengkan akan diantarkan ke meja kita dengan sejumlah nasi uduk yang terbungkus daun pisang. Di meja juga biasanya sudah tersedia kerupuk2 yang sudah dimasukkan ke dalam plastik.

Nasi uduk Gondangdia adalah salah satunya. Beberapa waktu yang lalu, lokasinya pindah kira2 100 meter dari tempatnya yang dahulu. Bila anda sedang berada di daerah Cikini, pada jalan yang Paralel dengan jalan tempat Taman Ismail Marzuki berada, setelah melewati kolong jembatan rel kereta jabotabek, langsung lihat ke kanan. Dahulu lokasinya  terlihat langsung setelah berada di kolong jembatan tersebut. Sekarang setelah di bawah kolong jembatan, belok tajam ke kanan, masuk ke jalan yang searah dengan rel layang kereta, dan nasi uduk Gondangdia berada di sebelah kiri jalan.

nasi uduk gondangdia

nasi uduk gondangdia

Soal rasa, cukuplah. Ga ada yang bisa dikomplain. Saat ini soal nasi uduk saya sudah menemukan 2 macam, yang enak, dan yang biasa aja. belum pernah ketemu yang enak banget atau ga enak.. hehehe.. Nasi uduk gondangdia adalah termasuk yang enak. Nasi uduk disajikan dengan sambal kacang dan sambal cabai. Tapi ada satu yang membuat kami sering kembali ke sini walau ada warung nasi uduk lain yang relatif lebih dekat dari tempat tinggal kami. Petenya… rasanya itu.. kami sudah coba bermacam-macam tempat, bahkan bermacam2 cara masak… tapi belum pernah bisa mendapatkan rasa pete yang sama dengan di sini. rasanya agak lebih “dalam”, tapi bukan sensasi bau.. mantap deh pokoknya… mmmhh….dan suka habis pula..

Harga mungkin dapat dibilang menengah lah… satu potong ayam dikenakan Rp. 9000. Kami makan nasi uduk 2, 2 potong ayam, usus sapi, 2 paru, 1 cumi dan 4 papan pete (hehehehe) kena Rp. 76.000. Menengah. Andai ga nahan nafsu karena berat badan sudah melewati batas normal, pasti lebih dari itu makannya… petenya udah 4 papan tuh.. hehehehe…

Read Full Post »

ternyata sejak tulisan sebelumnya dipublish, transaksi dengan e-toll card semuanya berhasil…

ga tau yang di Fuji Image Plaza

Read Full Post »

kejadian pertama:
di Fuji Image Plaza kelapa gading, nyetak foto Rp. 7000,-. Gak bisa lho pake Flazz kata kasirnya, hanya bisa untuk transaksi Rp. 50.000 ke atas. Aneh! oke lah .. kartu debit memang dimengerti kalau ada yang ngebatasin jumlah minimum pemakaiannya. Oleh karena itu dikeluarkan kartu Flazz dan yang semacamnya, untuk belanja receh. Kalo lantas kartu Flazz dibatasi juga, terus apa gunanya kartu ini ? ga beda dengan kartu debit toch? bayar parkir Rp. 2000 aja diterima kok ..

Ternyata setelah di”interogasi”, kata kasirnya ini adalah kebijakan kantor pusat. WTF????

Kejadian ke 2: tau E-toll card? itu lho,.. kartu untuk bayar toll hasil kerja sama jasa marga dan bank mandiri itu.. akhirnya nyoba mau pakai untuk pertama kalinya setelah beli kartu perdana Rp.250.000. Waktu kartu ditunjukkan, petugas gardu tol kasih tampang melongo untuk sekian detik, lantas bilang “wah mesinnya ga jalan pak!”… Gimana orang mau punya ni kartu kalo infrastrukturnya ga siap???

Kejadian ke 3: saat mau pulang, masih penasaran mau naik tol pake E-toll card. karena jam rush hour, gardu tol dibuka 2 lapis. Di lapis pertama, setelah melambai2kan kartu E-toll Card, disuruh ke lapis ke dua sama petugas gardunya. Sampai di lapis ke dua, si petugas bilang “wah di sini ga ada mesinnya pak.. di depan.. harusnya tadi bilang”.. tentu didahului dengan pelongo’an dulu untuk sekian detik. WTF???

Jadi ga usah ngomongin ekonomi berbasis cash pada pedagang asongan dan jajanan pinggir jalan. Yang digawangi Bank Mandiri dan pengelola toll aja masih ga beres.

Belom lagi ada merchant yang ngebatasin pemakaian minimum kartu Flazz yang sebenernya nota bene ditujukan untuk belanja receh.. what a twisted logic..

Ini semua terjadi dalam satu hari lho!

Saat bangsa lain makin maju masyarakatnya, kita masih sibuk menghindari lubang di jalan, banjir, dan tipu-tipu pemilu. Wahai bangsaku! Bangun lah dari buain mimpimu!

Read Full Post »