Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2012

Pada suatu minggu sore, kami sekeluarga baru menyadari bahwa ternyata bahan makanan di rumah sudah habis. Menghindari perut keroncongan bila saatnya diisi tiba, kami segera memutar otak untuk tempat makan yang murah, nyaman dan enak. Google ternyata adalah tempat yang tepat untuk mencari ilham. Dari hasil search kami muncullah nama casablanca rawamangun. Mengingat sudah lama kami tidak makan makanan bercitarasa timur tengah, setelah maghrib kami langsung meluncur ke lokasi.

lokasi tetap serasa di jakarta, lidah di timur tengah

Tempatnya ada di dekat terminal Rawamangun yang di Jalan Paus itu. Dari arah Kelapa Gading, tepat sebelum terminal ada jalan di sebelah kiri. Masuk ke jalan tersebut, ikuti jalan yang meliuk, melewati plank panti asuhan, maka casablanca ada di sebelah kanan Jalan. Tempatnya cukup nyaman karena bukan warung gerobak mobile nan convertible, namun terletak di halaman suatu rumah tinggal yang disulap menjadi tempat makan.

Sayang sekali, menu utama yang kami incar, nasi kebuli, ternyata hanya ada pada hari jumat. Akhirnya kami memesan menu yang paling mirip: nasi goreng kebuli. Apa ini? Ya nasi goreng rasa kebuli. Kemudian untuk menemani citarasa timur tengah, kami juga memesan 2 kebab, sughra/kecil dan kabir/besar. Rasa kebabnya boleh lah bersaing dengan doner kebab yang di mall dengan harga pinggir jalan. Untuk membasuh tenggorokan, kami pilih teh adn, teh dengan krim susu dan rempah2, disajikan di ceret mini dengan gelas gelas kecil. Lengkaplah malam timur tengah kami kala itu.

Karena penasaran, hari jumat depannya kami kembali lagi untuk nasi goreng kebulinya. Ternyata cukuo memuaskan dengan acar hijau khas citarasa timurtengah dan sepotong kambing goreng gurih nan empuk. Pada kesempatan yang sama, saya mencoba bubur oatmeal kambing, yang sama sekali belum pernah saya dengar sebelumnya. Dan memang rasanya cukup “mengejutkan”. Nikmaaat.. agak sulit memang untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Harga, yang paling mahal adalah nasi kebulinya, rp. 25 ribu. Yang lain lebih murah. Harga trotoar, rasa nikmat, tempat bersih.. harus dicoba…

Iklan

Read Full Post »

Macet adalah permasalahan klasik dan PR pemerintah DKI Jakarta yang belum terselesaikan. Telah banyak wacana yang dimajukan dalam rangka memerangi kemacetan ini, misalnya dengan penambahan flyover atau penggalakan penggunaan kendaraan umum. Terlepas dari berjalan atau tidaknya program program tersebut, kemacetan tetap betah tinggal di jakarta. Pemerintah seakan kehabisan ide, program apalagi yang harus dijalankan?

Suatu sore di jakarta

Sebenarnya paling tidak ada 1 lagi yg dapat dijalankan tanpa perlu pembangunan infrastruktur baru: penegakan peraturan lalu lintas. Coba perhatikan, berapa titik kemacetan di jakarta yang disebabkan oleh tidak dijalankannya peraturan lalu lintas. Saya perhatikan perilaku ngetem sembarangan dari angkutan umum adalah salah satu penyumbang kemacetan yang cukup signifikan. Kemudian juga banyak titik kemacetan yang diakibatkan suatu perempatan jalan mengunci, yang penguncian ini diakibatkan banyaknya kendaraan yang menerobos lampu merah. Kemudian parkir di pinggir jalan, dari yang benar-benar melanggar seperti tepat di bawah rambu P coret, sampai ke tempat-tempat yang membolehkan parkir namun ternyata parkiran sampai berlapis-lapis dan menghabiskan hampir seluruh badan jalan. Kesemua tingkah laku ini melanggar peraturan dan hukum lalu lintas, namun amat sangat jarang sekali, menurut pengamatan saya, ditegakkan akhir-akhir ini. Walhasil keberadaan penegak hukum c.q. negara di jalan raya hampir tidak ada. Meminjam istilah yang sering muncul di media belakangan ini, hukum di jalan raya berjalan dengan Auto Pilot.

Kita ambil contoh, misalnya dari jalan Ahmad Yani, flyover dari arah tanjung priok menuju Rawamangun, di atas perempatan jalan Perintis Kemerdekaan. Tepat di ujung flyover, banyak berderet tanda dilarang parkir maupun dilarang stop. Tidak jauh dari situ terdapat pula pintu masuk tol dalam kota, yang di sebelah kanannya ada jalur busway dan tempat memutar. Betapa sebenarnya amat penting bahwa kendaraan tidak stop bahkan berhenti di tempat yang ada larangannya tersebut. Akan tetapi ternyata sudah sekian tahun lamanya tempat tersebut menjadi terminal tidak resmi bus-bus, yang seringkali menutupi jalan dari arus kendaraan yang baru turun dari flyover. Sehingga, terutama pada jam sibuk kemacetan mengular ke belakang. Ada gula ada semut, daerah trotoar sekitar terminal tidak resmi tersebut sekarang dipenuhi warung semi permanen, sehingga pejalan kaki pun tidak bisa berjalan di atas trotoar. Kemana para penegak hukum? Tidak tahu sehingga tidak ditindak? Memang sih, kalau sore jam sibuk biasanya ada 1 atau 2 polisi yang menjaga agar bus tidak berhenti di tempat tersebut. Namun seringkali pula bus-bus nakal berhenti setelah melewati polisi yang berjaga tersebut. Sadar atau tidak ini adalah bentuk pelecehan terhadap perangkat negara. Tidak adanya tindakan dari perangkat negara tersebut sebagai reaksi dari pelecehan, makin merendahkan martabat para perangkat negara tersebut. Apalagi kalau ternyata bisa “damai”.

Tentu ini bukan satu-satunya titik kemacetan di Jakarta. Banyak tempat lain, yang permasalahannya kira-kira sama. Bayangkan kalau seluruh pemakai jalan, baik itu yang di jalanan aspal dan yang di trotoar tunduk pada peraturan lalu lintas. Tanpa ada penambahan infrastruktur sekalipun sepertinya akan terasa perbedaannya.
Pertanyaannya, kenapa saya belum dengar ada calon Gubernur yang “menjual” wacana ini?

Read Full Post »