Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2010

Alkisah di lingkungan tempat tinggal seorang kenalan, kalau hujan lebat, maka air akan menggenangi jalan setinggi bemper rata-rata mobil sedan. Fenomena ini baru sekitar setahun ini, sebelumnya tidak pernah. Hal ini membuat saya menanyakan hal ini kepada yang bersangkutan, apakah fenomena perubahan iklim sebegitu terasanya.

Usut punya usut, ternyata ada 1 simpul selokan yang memang diperintahkan ditutup oleh ketua RT dengan jala besi. Penyebabnya adalah sampah. Tepatnya ketidakpedulian masyarakat sekitar tentang sampah yang diproduksi di rumah tinggal masing-masing. Sebagian warga (cukup banyak) wilayah RT yang selokannya ditutup, dan RT-RT sekitarnya banyak yang menolak membayar iuran sampah. Selain itu mereka juga tidak memiliki tempat sampah di depan rumahnya. Lantas, ke mana larinya sampah-sampah tersebut? kebanyakan dibuang ke tempat sampah warga yang memilih untuk membayar iuran sampah. Sisanya dibuang ke pembuangan klasik : selokan! Akibatnya adalah selokan seputaran lingkungan itu adalah tempat mengalirnya sampah2 warga sekitar. Nah, pada titik-titik tertentu, kotoran-kotoran ini mengendap, menggumpal, menghalangi aliran air selokan; salah satu endapannya adalah di RT kenalan tadi. Akibatnya adalah air selokan menggenang, jadi sarang nyamuk. Jika hujan lebat, celah2 kecil diantara endapan tersebut kurang besar untuk lewatnya debit air yang lebih besar, sehingga air luber ke jalan.

Jangan salah, sang ketua RT tidak berpangku tangan. Beliau katanya sudah meminta warga agar bekerja sama

(membayar iuran sampah) untuk menyelesaikan permasalahan sampah di wilayahnya. Namun banyak yang membandel. Mungkin rumahnya harus terendam banjir dulu (ini pun bukan jaminan,.. kalau terendam banjir paling cengengesan terus bilang : udah nasib begini, pasrah aja). Akhirn

ya dikeluarkanlah dekrit untuk menutup selokan2 yang mengalir ke wilayah RT lain, sehingga paling tidak dia hanya berurusan dengan sampah wilayahnya sendiri.

Hal ini adalah ilustrasi pekerjaan rumah (PR) pemerintah Jakarta. Banjir dan genangan tidak hanya diatasi dengan mengeruk dan membuat banjir kanal. Permasalahan sampah juga tolong ditangani. Level RT kan berarti level swadaya masyarakat? buat apa bayar pajak selama ini? Paling tidak yang bisa dilakukan adalah mendukung dan membantu sang ketua RT untuk memaksa warganya membayar iuran sampah. Kalau tidak bayar, silakan simpan sendiri sampah itu di rumah masing-masing. Di beberapa kota di negara Eropa, retribusi sampah dipungut balaikota, dan pemerintah kota yang mengurus sampah kota tersebut, bukan RT.

Iklan

Read Full Post »