Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Jajan’ Category

Pada suatu minggu sore, kami sekeluarga baru menyadari bahwa ternyata bahan makanan di rumah sudah habis. Menghindari perut keroncongan bila saatnya diisi tiba, kami segera memutar otak untuk tempat makan yang murah, nyaman dan enak. Google ternyata adalah tempat yang tepat untuk mencari ilham. Dari hasil search kami muncullah nama casablanca rawamangun. Mengingat sudah lama kami tidak makan makanan bercitarasa timur tengah, setelah maghrib kami langsung meluncur ke lokasi.

lokasi tetap serasa di jakarta, lidah di timur tengah

Tempatnya ada di dekat terminal Rawamangun yang di Jalan Paus itu. Dari arah Kelapa Gading, tepat sebelum terminal ada jalan di sebelah kiri. Masuk ke jalan tersebut, ikuti jalan yang meliuk, melewati plank panti asuhan, maka casablanca ada di sebelah kanan Jalan. Tempatnya cukup nyaman karena bukan warung gerobak mobile nan convertible, namun terletak di halaman suatu rumah tinggal yang disulap menjadi tempat makan.

Sayang sekali, menu utama yang kami incar, nasi kebuli, ternyata hanya ada pada hari jumat. Akhirnya kami memesan menu yang paling mirip: nasi goreng kebuli. Apa ini? Ya nasi goreng rasa kebuli. Kemudian untuk menemani citarasa timur tengah, kami juga memesan 2 kebab, sughra/kecil dan kabir/besar. Rasa kebabnya boleh lah bersaing dengan doner kebab yang di mall dengan harga pinggir jalan. Untuk membasuh tenggorokan, kami pilih teh adn, teh dengan krim susu dan rempah2, disajikan di ceret mini dengan gelas gelas kecil. Lengkaplah malam timur tengah kami kala itu.

Karena penasaran, hari jumat depannya kami kembali lagi untuk nasi goreng kebulinya. Ternyata cukuo memuaskan dengan acar hijau khas citarasa timurtengah dan sepotong kambing goreng gurih nan empuk. Pada kesempatan yang sama, saya mencoba bubur oatmeal kambing, yang sama sekali belum pernah saya dengar sebelumnya. Dan memang rasanya cukup “mengejutkan”. Nikmaaat.. agak sulit memang untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Harga, yang paling mahal adalah nasi kebulinya, rp. 25 ribu. Yang lain lebih murah. Harga trotoar, rasa nikmat, tempat bersih.. harus dicoba…

Iklan

Read Full Post »

Pada suatu minggu siang, saat di rumah tidak ada makanan karena memang tidak ada yang dapat dimasak (belum belanja), kami putuskan untuk mencoba salah satu rumah makan masakan India yang memang sudah lama kami incar. Untuk diketahui, waktu dulu tinggal di salah satu negara Eropa, kami adalah langganan dari suatu restoran masakan India yang dimiliki oleh orang Bangladesh. Sehingga sekali waktu ingin rasanya mencicipi kembali cita rasa asia selatan tersebut.

Berbekal ingatan, kami langsung meluncur ke arah Kemang. Lokasi restoran ini, bila dari arah KKO Cilandak, masuk ke jalan Ampera, terus ke arah McDonald’s Kemang, adalah di sebelah kanan. Tidak sulit untuk menemukannya, karena gaya bangunannya mengadopsi gaya India. Masuk melalui pintu utama, kita akan menemui tangga di sebelah kanan. Ikuti tangga tersebut, sampailah kita di Kinara. Sama halnya dengan bagian luarnya, bagian dalam dari restoran ini juga terlihat amat “india”. Bahkan menurut pelayannya, kayu kayu ukiran, sebagian meja dan perabot yang ada di sana memang di impor dari India.

f Menu diberikan dengan nama India aslinya. Namun jangan kuatir, bila cukup mahir berbahasa Inggris, kita dapat membaca deskripsi masakan tersebut yang tertulis dalam bahasa Inggris. Bila itu juga kurang mahir, para pelayannya yang orang Indonesia tulen dapat membantu menjelaskan. Di setiap meja disediakan kerupuk a la India, “Papadam”, dengan rasanya yang khas India.

Hati-hati bahwa Papadam yang disediakan ada 2 macam, yang “pedas” (pedas merica, bukan cabai), serta yang biasa. Untuk minuman, bila tidak yakin dengan deskripsi yang ada, saya sarankan pesan yang sudah biasa saja, seperti misalnya jus mangga, atau teh manis. Saya iseng mencoba minuman asli India seharga sekitar Rp. 18 ribu, dan ternyata setelah dicoba, saya tidak menyukainya. Ada rasa asam dan asin, serta pedas hangat ala merica. Mungkin minuman ini digemari di India, namun rasanya kurang cocok untuk lidah saya.

Selain Papadam, di meja tersebut juga disediakan 3 macam “sambal”. Saya berikan tanda kutip karena tidak semuanya pedas. Ada yang isinya peach/mangga (warna kuning), bahan dasar mint (warna hijau), dan satu lagi yang berwarna merah. Yang terakhir tidak saya coba karena tidak mau mengambil resiko bahwa sambal ini benar-benar pedas sementara saya sudah berkutat dengan pedasnya papadam dan minuman saya.
Menu yang saya pesan, namanya sudah tidak ingat lagi. India sekali. Namun yang saya ingat saya pesan 2 lauk, 1 kambing dan 1 ayam. Yang hidangan kambing berpenampakan seperti kalio yang di atasnya ada potongan paprika dan irisan keju. Rasanya tentu berbeda dengan kalio, khas dengan rasa rempah india yang “hangat”. Demikian pula hidangan ayamnya yang mirip. Untuk nasi kami pilih “biryani kashmiri”. Pilihan ini diambil karena di nasi ini ada beberapa potongan buah yang manis, cukup komplementer dengan hidangannya yang hangat pedas.  Sayang di restoran ini, menu makanan favorit saya, murg/lamb kashmiri tidak tersedia. Sepertinya memang masakan india yang ada potongan buah manisnya selalu menggunakan kata kashmiri. Kemudian, karena nasi yang dipesan porsinya kurang banyak, akhirnya pesan lagi roti india yang besar (nan). Untuk Nan ini pilihannya juga banyak, ada yang isi keju, kashmiri, dan lain lain. Saya sar
ankan untuk benar-benar berkonsultasi dengan pelayan agar tidak salah pilih menu. Citarasa India memang ada yang mirip dengan Indonesia, tetapi ada juga yang amat berbeda. Bila memilih dengan tepat, maka selera akan tergugah, kalau salah pilih, … hehehe.. entahlah…

Harga di restoran ini memang tidak bisa dikatakan murah. Untuk makan dan minum untuk 3 orang kami harus membayar 300-an ribu. Namun kalau tidak terlalu sering, rasanya cukup pantas untuk pengalaman, citarasa serta atmosfir berbeda yang ditawarkan restoran ini. Oh ya, jangan takut bahwa ini adalah resto India “palsu” (pakai nama India tetapi masakannya berbeda dengan yang asli di India, Ibarat sate disajikan dengan kentang goreng dan mayonaise). Pemiliknya menurut beberapa pelayan adalah etnis India, dan citarasanya memang mirip/sama dengan langganan kami si orang Bangladesh tadi.

Read Full Post »

Mendekati idul fitri, kami sudah tidak lagi memperhatikan persediaan bahan makanan di rumah. Sayang kalau belanja, karena beberapa hari terakhir ini, dan tentunya nanti beberapa hari setelah lebaran, kami (akan) sering nebeng makan di rumah sanak keluarga.. hehehe… Sehingga pada suatu sore, kami mulai mikir2 mau buka puasa makan apa. Hari masih menunjukkan jam 2 siang, tidak ada kerjaan, cocok sekali untuk sekalian jalan-jalan ngabuburit. Tapi karena lemas, malas rasanya jalan ke mall, karena harus jalan kaki, belum lagi mengejar2 2 anak balita.

Akhirnya teringat ada sebuah resto di komplek kampus UI Depok, yang suasananya enak untuk bersantai bersama anak2. Dari berangkat saya sudah tekadkan hanya akan beli dan bungkus makanannya untuk berbuka di rumah. Karena saya yakin (dan kemudian terbukti) bahwa Resto tersebut, “Gubuk makan Mang Engking” sudah full booked untuk buka puasa. Selain itu akan sulit bagi kami untuk menjaga para balita yang pasti akan terkesima dengan ikan2 mas yang ada di danau sekitar tempat makannya.

Mang Engking, terletak di dalam kompleks UI. Tapi aksesnya bukan dari Gerbang Utama. Kalau dari arah Jakarta, sampai di percabangan jalan Kelapa Dua-Margonda Raya-UI (+mutar balik ke Lenteng Agung), ambil lajur paling kanan, naik flyover, ambil kiri. jangan masuk ke gerbang UI (ada rambunya). 200/300 meter setelah putaran flyover, akan tampak halte bus UI. Bersiap untuk belok kiri, akan ada gerbang UI satu lagi, yang biasa digunakan kendaraan untuk keluar dari UI. Setlah masuk gerbang tersebut, langsung belok kanan, dan nanti sebelah kanan ada satpam, ambil kartu parkir, dan bayar.. Mang Engking akan terlihat di sebelah kiri jalan. Untuk jelasnya, klik di sini. Mang Engking ada di Jalan Lingkar Kampus Utara.

Pada dasarnya menu mang Engking itu adalah Udang, cumi, ikan. cara masaknya bermacam2 (asam manis, goreng, bakar kecap, bakar madu, dll) dan rata-rata enak. Namun favorit saya adalah udang goreng kering dan udang bakar madu. Udang bakar madu ini setahu saya cuma ada di mang Engking ini. Harus dicoba,.. rasanya manis-pedas, dengan rasa bakaran dan tentunya madu. Untuk 8 ekor udang besar bakar madu, dihargai Rp. 70-an ribu. Menu lainnya harganya kira2 sama dengan rumah makan seafood yang tidak mahal.

Selain menu bakar madunya, Mang Engking ini lokasinya nyaman.

Enak didatangi beramai2 untuk bersantai, karena gubuk2nya adalah gubuk panggung yang berada di atas danau yang banyak ikan masnya.. gede2 pula. Anak2 akan senang sekali, setelah makan, memberikan sisa kulit udang ke ikan2 tersebut.. Kalau mau sekalian olahraga, silakan bawa sepeda, track sepeda UI lumayan panjang.. hehehe..

Sebaiknya jika ingin makan di sini, telpon dulu, pesan menunya, baru kita datang. Dengan demikian makanan akan segera terhidang saat kita sampai.

Info lebih lanjut ada di akun facebooknya. Kampus UI, walau dikatakan di Depok, tetapi ujung utaranya berada di wilayah DKI Jakarta. Demikian pula halnya dengan Gubuk Makan Mang Engking ini.

Read Full Post »

Martabak Kubang menurut saya adalah Martabak Telor yang bercitarasa khas, lain dari martabak telor pada umumnya. Ada citarasa khas padang yang sulit saya deskripsikan lewat tulisan. Namun yang jelas, citarasa lain ini berasal dari rempah-rempah. Konon katanya, martabak kubang ini awalnya kreasi pedagang Martabak di Kubang, Sumatera Barat.

Yang ingin saya ulas di sini adalah Rumah Makan Martabak Kubang, yang di Jakarta, setahu saya paling tidak cabangnya ada di Jalan Saharjo (ke arah pasar rumput, sebelah kiri) dan Jalan Margonda Raya (ke arah Depok, sebelah kiri, kalau sudah sampai Margocity berarti sudah terlewat lumayan jauh). Selain Martabak telor, Rumah makan ini juga menyediakan martabak manis dengan segala variasinya (rasanya juga lumayan lho), soto padang, roti cane dengan segala teman-temannya (kari, dst), nasi goreng kubang, mi goreng kubang, dan lain sebagainya.

Menu favorit saya di rumah makan ini adalah martabak kubang, martabak keju Wysman, dan Nasi goreng kubang spesial. Khusus nasi gorengnya, rasanya berbeda dari nasi goreng yang pada umumnya di Jakarta. Cita rasa khas rempah martabak kubang tadi, juga dapat dirasakan pada nasi goreng ini. Dengan potongan daging kecil-kecil serta telur mata sapi, rasanya nikmat sekali. Sekali lagi, karena sulit dideskripsikan dengan tulisan, saya sarankan untuk mencoba sendiri di Martabak Kubang.

Harga cukup bersahabat, tidak berbeda jauh dengan menu yang dijual di gerobak  pinggir jalan. Sebagai gambaran, martabak keju wysman dihargai Rp. 35.000.

Read Full Post »

Pada suatu hari di bulan Ramadhan, saya sekeluarga “terperangkap” di Pondok Indah Mall menjelang waktu berbuka. Semua warga Jakarta sudah mengetahui, bahwa jam-jam mendekat buka puasa adalah

jam macet, sehingga kami berusaha mencari tempat untuk berbuka di dalam Mall. Kami tidak punya kriteria mau makan apa, sehingga yang kami utamakan adalah tempat yang bisa direserve, kemudian yang cukup nyaman untuk anak-anak, serta yang paling penting adalah, menyediakan potongan harga.

Salah satu yang menyediakan potongan harga tersebut adalah Pho, vietnamese restaurant di restaurant row PIM 2. Kebetulan saya sudah lama tidak makan masakan Vietnam yang segar2 itu. Ketika tiba saatnya berbuka, kami disuguhi kolak dan teh manis, complimentary gratis dari restaurant. Setelah itu langsung kami menyantap makanan yang dipesan. Saya tidak ingat judul menu yang saya pesan, tetapi menunya adalah mi dengan irisan daging tipis2, ukuran regular (ada yang jumbo, mangkuknya besar sekali). Seperti yang saya sudah perkirakan, rasanya segar dan unik. Karena memang rasanya tidak sama dengan masakan Indonesia atau Cina. Benar-benar cita rasa Vietnam. Jusnya pun cukup unik, jus sawo,.. manis nikmat sebagai teman berbuka. Ada beberapa bumbu yang berbeda, namun karena pengetahuan memasak saya minim, saya tidak bisa memperkirakan apa bumbu tersebut.

Kami memesan 2 mangkuk mi, dan 1 porsi anak2, beserta 2 minuman, kami membayar sekitar Rp. 150.000 setelah potongan 25%.

Read Full Post »

Martabak Manis Rudy

Beberapa tahun belakangan ini, jalan pulomas raya, terutama ujung yang dekat jalan Bypass banyak berjejer penjaja makanan di malam hari. Untuk kenyamanan pengguna jalan, sebaiknya dibatasi saja jumlahnya yang sekarang, jangan nambah lagi. Sumpek Sesak kalau penjajanya bertambah. Atau mungkin pemerintah setempat melihatnya sebagai ajang pemasukan keuangan? karena saya lihat tukang parkirnya berbaju seragam.

Terlepas dari hal di atas, saya sendiri cukup menikmati keberadaan para penjaja makanan malam ini, dengan catatan, jumlah tidak lagi bertambah banyak. Salah satu gerobak yang berulang kali saya hampiri adalah martabak rudy. Setelah penjual martabak langganan saya pindah entah kemana, mulai lah saya mencari-cari penjual martabak yang rasanya enak, dengan harga yang bersahabat. Karena sering lewat jalan Pulomas raya, maka ditemukanlah martabak Rudy ini. Untuk rasanya, sepertinya tidak kalah dengan martabak langganan saya yang dulu tadi. Silakan lihat ulasannya di sini.

Untuk kisaran harga, 1 martabak keju dihargain Rp. 37.000.

Read Full Post »

jalan kebun sirih, sekitar lokasi penjual nasi goreng

nikmatnya tinggal di indonesia adalah, jika tiba-tiba rasa lapar menerjang di waktu malam, selalu kita akan dapati penjual nasi goreng yang siap menjinakkan rasa lapar tadi. Tukang nasi goreng ini ada yang berkeliling daerah perumahan dengan gerobaknya, juga ada yang mangkal, baik dengan gerobak, atau gerobak yang sudah disulap jadi gubuk semi permanen.

gubuk nasi goreng semi permanen yang sudah lama berdiri, terkenal dan nikmat terletak di daerah kebon sirih. Bila dari arah jl. Diponegoro, masuk ke jalan sabang, kita akan menemui jalan satu arah, dan kita hanya bisa belok kanan. Segera setelah membelok, kita akan temui deretan mobil2 parkir. Penjual nasi gorengnya berada di gang di dekat situ, diantara gedung2 perkantoran.

penjual nasi goreng ini menjual bermacam2 nasi goreng dan juga sate. Favorit saya adalah nasi goreng kambingnya. Rasanya khas, nikmat, tidak terlalu pedas. Daging kambingnya mungkin tidak empuk sekali, namun cukup nyaman di otot rahang. Dengan ditaburi emping… Hmmm…

walau kursi meja bak restoran disediakan, namun banyak orang yg memilih menikmati hidangannya di mobil masing2. Kemarin makan di situ, 3 piring nasi goreng kambing plus 2 teh botol dihargai 66 ribu rupiah saja.

Read Full Post »

Older Posts »