Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘indonesia’

Definisi “band”

Band. Apa sih tuh? sama kah dengan boys band? kata orang sih boys band itu adalah sekumpulan anak muda, jenis kelamin lelaki yang tergabung dalam 1 grup, bikin album nyanyi dan jadselebritis. Banyak contohnya yang kelas dunia, banyak juga contohnya yang kelas lokal Indonesia. Sayangnya beberapa anggota grupnya nyanyinya pas-pasan, numpang pasang tampang doang.

Ada lagi yang bentuknya grup juga, tapi yang punya peran utama nyanyi cuma satu orang. Yang lain perannya mainin alat musik. Biasanya ada 1 pemain gitar, 1 pemain drum, dan satu pemain bas. Alternatif lain ada pemain gitar satu lagi, dan/atau pemain keyboard. Bisa juga si penyanyi juga sekalian megang alat musik seperti di grup Metallica. Pemegang alat musik yang lain kalo kebetulan bisa nyanyi, boleh juga nyanyi, bahkan ada band yang semua anggotanya bisa nyanyi, jadi sekalian paduan suara seperti the Beatles. Kalo menurut saya, kategori ini lah yang disebut “band”.

Agar tidak membingungkan, harusnya boys band diberi label “vokal grup pria” aja. Lebih pantas. Kalo boys band itu harusnya band seperti Metallica, isinya cowo semua, ga boleh ada cewe. Kalo cuma nyanyi bareng sih cukup “vokal grup” atau “kelompok bernyanyi” saja.

Band & musik

Biasanya band itu membawakan lagu ciptaan mereka sendiri. Aliran musik band ini bisa bermacam-macam, tapi biasanya mengikuti trend yang berlaku pada zaman saat band itu berjaya. Misalnya, tahun 70-an band yang ada, lokal maupun internasional bergaya classic rock, taun 80-an heavy metal, taun 90-an grunge atau indy, taun 2000-an, meminjam istilah Ir. Soekarno, musik ngak-ngik-ngok… lembek kaya tempe..

Di kancah musik internasional, sudah jarang saya mendengar band-band baru yang berkarakter. Maksud berkarakter adalah musik mereka tetap berada dalam aliran tertentu, namun memiliki karakter sendiri, yang kalau lagu mereka diperdengarkan akan mudah mengetahui itu dari band mana, dan walau ada ciri khas, tidak membosankan karena terdapat perbedaan yang signifikan antar lagu-lagunya, dengan tetap membawa ciri khasnya. Contoh band-band berkarakter ini misalnya, Queen, Metallica, Red Hot Chilli Peppers, Nirvana, Genesis, the Police, U2, dll.

Di Indonesia sayangnya band-band berkarakter ini juga sedikit jika dibandingkan dengan yang ga berkarakter. lebih parah lagi, beberapa minggu terakhir marak berita yang mengatakan bahwa beberapa band Indonesia tidak hanya tidak berkarakter, tetapi tukang plagiat. Sudah lama saya tidak menyaksikan band sekelas Slank ataupun Dewa19 muncul ke permukaan. Karakter musik mereka kuat sebagaimana band-band serupa di dunia internasional di atas.

Musik Indonesia yang monoton

Monoton? kan setiap lagu beda? … wah ga juga kayaknya. Masih ingat akhir dekade 80-an dan awal 90-an waktu slow rock ngetop? hampir semua menelurkan lagu yang mirip-mirip, aransemen dan nadanya. Sekitar tahun-tahun itu juga sempat grup-grup musik cadas bermunculan dengan skill memainkan alat musik yang cukup bagus memainkan lagu heavy metal, dengan model rambut gondrong dan vokalis yang suaranya tinggi. Lirik,.. hmm… tidak ada perubahan berarti sejak tahun 70-an.. masih garing-garing aja..

Bagaimana dengan 2000-an? makin parah sepertinya. Hampir semua band yang baru bermunculan gaya musiknya sama! dandanan pun hampir sama. Sempat suatu kali di acara tv, saya tidak menyadari bahwa sudah ada 2 band yang tampil, sementara saya masih mengira bahwa itu adalah band yang sama, karena gaya lagu, gaya menyanyi, pelafalan lirik, bahkan suara vokalis mirip! Pada kesempatan yang lain, pernah pula mendengar album sebuah band, sudah lebih dari 3 lagu yang diputar, namun saya mengira masih mendengar lagu yang sama karena yang berbeda cuma liriknya! liriknya juga ga berubah, cengeng, cinta, dkk, jarang yang bertema berbeda seperti misalnya, lagu “persahabatan” dari Sindentosca.

Barusan saya search di youtube untuk mendengar musik dari  band-band baru ini, dan mendapati gaya musik dan cara menyanyi para vokalis sekarang bersumber pada 2 band yang kebetulan cukup berkarakter. Sekitar tahun 90-an, waktu musik Indonesia yang sudah mandeg tidak ada angin segar, muncul sebuah Band, Sheila on 7. Saat itu band ini membawa angin segar dengan aransemen musik yang berbeda dengan zamannya, ringan, sederhana, enak didengar, berbeda. Suara vokalis juga pada saat itu tidak mainstream (mellow, empuk, falsetto). Karakter ini lah yang saya dengar dicopy dan dipaste oleh banyak band, menjadi mainstream, sampai pada tingkatan yang membuat band aslinya menjadi kurang karakternya. Bukan salah Sheila on 7, tetapi gaya mereka ditiru oleh hampir semua band. Gaya menyanyi sang vokalis, Duta,  juga ditiru! Namun tidak mentah-mentah.. gaya vokalis Sheila on 7 ini kemudian dipadukan dengan gaya menyanyi Armand Maulana, vokalis Gigi, dengan pelafalan liriknya yang khas. Terbentuklah gaya menyanyi a la band lokal Indonesia dekade pertama abad 21.

Lirik? masih ada yang cukup bagus, tapi yang parah banyak. Temanya monoton, sebagaimana telah tersebut di atas, cinta, cinta dan cinta. Oke lah, di luar negeri sana juga cinta, cinta dan cinta. Tetapi lirik yang dipilih lumayan artistik. Tidak langsung to the point mengarah ke cinta, namun membuat metafora, perumpamaan, dan lain sebagainya.

Akhirnya kalau beli musik band Indonesia, cukup dilakukan dengan tutup mata dan telinga. Kemungkinan besar musik dan vokalnya sama kok, kecil  kemungkinan deh salah beli..

Read Full Post »

Baghdad. Ibu kota Irak yang sedang rusuh. Tapi Little Baghdad bisa ditemukan di Jakarta, paling tidak di dua tempat. Dekat Jalan Kemang Raya, dan Kelapa Gading (!), di Gading Batavia. Kalau dari arah Mall of Indonesia (halah.. saingan Mall of America) ke Mall Kelapa Gading, belok kiri sebelum Makro.

Sebenarnya niat masuk ke Little Baghdad ini nyari makanan untuk ibu hamil ngidam, Baclava. Suatu makanan selingan/kue yang dikenal di daerah timur tengah sana, dari Maroko sampai Irak. Tapi saya jarang lihat di Saudi, kalo ada yang jual ya kalo ga orang Turki, orang Irak atau Maroko.

Dari luar terlihat timur tengah sekali. Masuk ke dalam disambut dengan ramah oleh para pelayannya, dan dipersilakan duduk. Mulai terlihat bahwa tempat ini adalah tempat nongkrong dan kongkow yang kebetulan menyediakan makanan. Tempat duduk berbentuk sofa, mirip di warung kopi (starbucks). Juga sesekali asap dari shisa, tembakau bakar-hisap a la timur tengah yang harum namun tetap berhawa tembakau melintas di depan hidung.

Memang shisa ini adalah “hidangan” lain dari little baghdad. Konsepnya mirip ngerokok pake cangklong, tapi tembakaunya lebih banyak, asap dilewati dulu dari alat mirip botol besar (botol yang panjang tapi kurus) yang di dalamnya ada airnya. kita menghisap tembakau dari pipa panjang yang tersambung ke botol  tadi. Sedikit cerita, pertama kali saya mencoba shisha ini adalah dengan seorang rekan asal libanon di apartemennya, sekalian dicurhatin sama dia.. hahaha.. dan dari situ saya yang saat itu sudah mantan perokok 234 pun merasa bahwa shisha ini lebih keras di tenggorokan daripada yang dulunya biasa saya hisap. Dan ternyata benar adanya, bahwa shisha ini lebih beresiko daripada rokok biasa.

Sesaat stelah melihat menu2 yang disediakan di little Baghdad, saya melihat bahwa menu yang disediakan adalah mungkin “modernisasi” makanan timur tengah. Hal ini terlihat dari foto-fotonya, berbeda dengan yang disajikan teman-teman saya yang asli orang-orang timur tengah. Akhirnya saya memutuskan untuk memesan Baclava saja, karena sudah ditunggu oleh yang ngidam..

Baclava, seingatan saya, apalagi yang dulu biasa saya beli dari orang Irak di tokonya amatlah nikmat. Ada kriuk2nya, kriuk yang berbeda dari kriuk martabak telor, lebih mirip kriuk croissant. Pakai madu khusus, dan berbagai macam kacang2an yang digerus, salah satunya kacang mede. Nikmat untuk pencuci mulut. Bila mendapati Baclava yang terlalu manis, itu masalah selera yang buat. Kebetulan Baclava di toko orang Irak ini pas rasanya. Nah, yang dijual di Little Baghdad adalah versi modern-nya, baik dari bentuk (ga mirip lagi) dan rasa (masih ada miripnya). Kalau tidak salah harganya Rp. 35.000 untuk 5 potong kira2 sebesar pisang molen di pinggir jalan.

Memang pada akhirnya saya tidak mencicipi hidangan lain di Little Baghdad ini. Tempatnya memang enak untuk kongkow, namun bila yang dicari adalah makanan tradisional asli Irak, saya rasa bukan di sini tempatnya. Namun demikian, kalau ingin mendapat cita rasa makanan alternatif,.. ya mungkin boleh lah dicoba. Tapi mohon diingat, sampai saat ini saya hanya mencoba Baclavanya saja ya.. hehehe…

Read Full Post »