Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘lauk’

Warteg “21”

warteg21 Warteg adalah singkatan dari “Warung Tegal”. Di Jakarta biasanya merupakan sebuah “rumah makan” sederhana, dan alat makan seperlunya, cukup bagi tamunya untuk datang, makan, dan pergi lagi. Ngobrol-ngobrol di dalam warteg juga ga enak karena jarak antar tamu kalau warteg sedang penuh ya kira-kira pada umumnya sekitar 30-50 cm. Semua percakapan kita ikut didengarkan seisi warteg.

Kata warung tegal sih kalau di Jakarta sih berasal dari warung nasi yang biasa dikelola orang dari Tegal. Itu dulu. Sekarang walau masih banyak yang dikelola orang Tegal, namun sudah banyak juga yang pengelolanya bahkan bisa dari luar pulau Jawa.

Warteg yang dibahas kali ini adalah Warteg dengan papan nama neon di depannya yang bertuliskan “Warteg 21” sebagai nama Warteg ini (biasanya Warteg ga ada namanya). Tahun 90-an Warteg ini memang juga belum ada namanya, sebagaimana Warteg-warteg lainnya. Namun setelah lama tidak makan di warteg ini, tiba-tiba sudah terlihat lebih rapih, bahkan dengan papan nama neon!… berarti bisnisnya lancar nih…

Warteg ini sudah lama bercokol di daerah ini, bersebelahan dengan SMU 21, Kayu Putih Jakarta Timur, dekat kantor kelurahan Kayu Putih, dekat Pacuan Kuda Pulomas, di antara Rawamangun dan Kelapa Gading. Karena sudah lamanya, warteg ini sudah lumayan dikenal warga sekitar, terutama siswa dan  lulusan sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya, yaitu SD 01, SMP 99 dan SMU 21. Saat ini, mungkin dikarenakan jalan di depannya lumayan luas sehingga dapat dijadikan lahan parkir (dengan tukang parkir berseragam) yang nyaman, banyak juga didatangi para supir taksi, selain  juga beberapa bapak-bapak necis yang mungkin biasanya makan di restoran sekelas minimal Satay Khas Senayan. Mungkin orang tua siswa. Selain itu terkadang ada juga anak-anak remaja berdandan “gaul” yang makan di sini. Walau berpakaian dan asesoris yang tidak murah, lauk yang mereka ambil paling hanya sayur, tahu dan tempe. Tebakan saya, mereka adalah pelajar sekolah sekitarnya yang uang jajannya terbatas.

Makanannya ialah sebagaimana halnya warteg lainnya. Ada ayam sayur, sayur tempe, tempe goreng, tahu goreng, bakwan udang, bakwan, ikan goreng, terong, dan lain sebagainya. Lumayan beragam untuk sekelas warteg. Rasa makanannya agak sedikit lebih “berasa” daripada warteg-warteg pada umumnya. Kalau merasa rasanya kurang “menggigit”, disarankan untuk menambahkan kecap manis yang tersedia di meja, atau minta sama pelayannya.. akan ada peningkatan rasa yang cukup signifikan walau kecapnya hanya sedikit.

Harganya tidak diketahui dengan pasti, karena tidak ada daftar harganya, tetapi makan dengan nasi, lauk sayur nangka, bakwan udang, tempe dan telur pedas, serta minum es teh tawar (pahit?) dikenakan bayaran Rp. 9000 (kurang dari US$1). Lumayan murah dibandingkan misalnya beli ayam bakar di seputaran Jakarta Selatan, yang dihargai Rp. 15.000-an untuk nasi,lalap dan sepotong ayam (paha bawah dan atas).

Terakhir, ini warteg.  Jangan dibandingkan dengan restoran makanan rumah di level yang lebih tinggi, karena pada umumnya, tambah kualitas, tambah biaya. walau juga tidak menutup kemungkinan bertemu restoran mahal namun rasanya ga keruan. Ditanggung tutup dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.

Read Full Post »