Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember 24th, 2008

Nama restorannya sepertinya adalah “Kelapa Gading”, lokasinya di Taman Ismail Marzuki, Cikini, bukan di Kelapa Gading Jakarta Utara.Ikan Bakar Kelapa Gading TIM Restoran ini khusus menyajikan menu ikan:

– Ikan mas bakar rica

– Ikan gurame bakar rica

– Sop ikan

– Kepala ikan bakar

– dll

Sudah sejak tahun 90-an saya berkali-kali datang ke restoran ini karena ikan mas bakar ricanya. Mantabhh!! bakarannya, sambalnya, dabu-dabu, wah.. nikmaaaat… tahun 90-an dulu waktu masih agak muda dulu saya bisa makan 2 ikan bakar rica sekaligus dan nasi sebakul (nasi di restoran ini disajikan dalam bakul). Sekarang walau nafsu masih mau seperti itu, tapi perut dan berat badan saya sudah tidak mengizinkan… Ikan sih katanya gak terlalu nambah berat badan, dan cenderung menyehatkan, tapi makan ikan mas bakar rica serasa kurang afdol kalo ga pake nasi yang lumayan banyak..

Bagi yang tidak suka mengeliminasi tulang-tulang ikan mas selagi makan, dapat mencoba gurame bakar rica.. sama nikmatnya, hanya yang dibakar adalah gurame. Tergantung serlera lah..

Tempat makannya interior restoran ikan bakar ricabisa dipilih, di dalam yang ber AC dengan interior mirip rumah bambu, di luar, atau tentunya dibawa pulang. Saya biasanya mendapati tempat ini penuh saat2 makan siang. Apalagi saat buka puasa.

Harga,.. duh.. memang saya harus lebih detail lagi dalam mengamati harga. Terakhir minggu lalu saya ke sana, beli 1 gurame bakar rica dan 1 ikan mas bakar rica kena sekitar Rp. 110 ribu-120 ribu.

Bila mencari makanan ikan, tempat ini amat saya sarankan! Mantabh… sekali lagi.. mantabh… sekarang aja lagi ngebayangin jadi ngiler nih… ikan bakar rica

Iklan

Read Full Post »

NY Ribs Soal Makanan, Kelapa Gading memang ga ada matinya! di Mall aja udah banyak.. belum lagi yang di luar mallnya..

Kali ini saya sempatkan mencoba new Ribs saat makan siang. Sebenarnya waktu itu tidak ada niat makan siang di Kelapa Gading, namun ada ajakan untuk ditraktir yang amat sulit ditolak, meluncurlah siang itu ke Kelapa Gading Mall. Letaknya di foodcourt Kelapa Gading Mall 3, tempat yang sama dengan ulasan sebelumnya, Pempek Bunga Mas. Namun sederetan new Ribs ini, makanannya lebih kebarat-baratan atau modifikasi makanan lokal. Sebenarnya ingin juga kembali makan di Tamani Cafe, sebelah kiri dari new Ribs ini setelah terakhir makan di Tamani bertahun-tahun yang lalu. Juga sebelah kananannya yang menyajikan masakan Manado. Namun yang menarik saya untuk makan Ribs adalah, karena saya belum menemukan Ribs di Jakarta yang dagingnya banyak dan empuk, dan ingin mencoba sendiri apakah itu dapat saya dapatkan di New Ribs. Sang pentraktir juga menyarankan New Ribs karena sedang ada promosi makan siang Rp. 66.000,- lengkap dengan minuman dan coleslaw… hehehe..

Menu utama yang didapat adalah 3 ribs, 2 roti panggang (toast) bermentega, sayur timun dan wortel, serta mashed potato dengan saus gravy (kalau tidak salah, namun saus ini menambah nikmat itu mashed potatonya…. hmmmm…. Juga dapat Saos tomat dan Sambal! (ini indonesia Bung! ga ada sambal, ga nikmat.. hhehehehe )…

Menu Makan SiangSaya cukup terkejut karena ternyata dagingnya lembut! rasa panggangannya juga terasa sekali. Bumbunya, ya .. standar manis asam bumbu Ribs, tapi racikannya pas sehingga walau bumbunya sering kita temui, namun di sini pas nikmatnya.  mungkin ada menu lain yang belum saya coba, sehingga mungkin saja ada lagi bumbu-bumbu lainnya. Sungguh tidak saya duga dari sebuah food stall di sebuah food court Mall.

Boleh lah dicoba, terutama bila sedang berkantong relatif tipis namun ingin makan Ribs ala New York.

Oh ya… di belakang kasirnya ada tulisan, bahwa mereka belum buka cabang di tempat lain. Bila di tempat lain ada nama yang mirip, itu bukan cabang mereka….

Read Full Post »

Cimory dari depan

Cimory Restaurant Puncak ini letaknya 6-8 km dari ciawi, sebelum Taman Safari. Kalau dari arah Jakarta menuju Cianjur, letaknya di sebelah kiri jalan. Setelah beberapa kali mendengar namanya, rasanya ingin coba, dan kebetulan ada yang mentraktir.. hehehe… di bawah ini ada foto jalan raya puncak tepat di depan Cimory restaurant..Jlrayapuncak

Di lokasi ini  terdapat restaurant dan semacam toko kecil yang menjual yoghurt dan makanan-makanan yang dapat dibawa sebagai bekal di kendaraan. Sehingga dapat juga dilihat sebagai SPBU buat perut … hehehe..

Nuansa restaurant cukup lumayan untuk bersantai sejenak, istirahat dari macetnya jalan raya puncak. Pemandangan ke lembah belakangnya juga cukup bagus walau tidak spektakuler. Bagi yang membawa anak-anak ada taman bermain yang lengkap dengan ayunan, prosotan, panjat-panjatan dan lain-lain, cocok untuk menghilangkan kebosanan pada anak-anak dalam perjalanan jauh. Malah banyak yang terlihat tidak mau waktu diajak meninggalkan tempat itu…

tempat main

imag01151imag01161Makanan yang tersedia di restaurant adalah kebanyakan makanan yang biasa tersaji di kafetaria jalan antar kota di Amerika atau Eropa, seperti sosis kentang. Namun juga tersedia makanan Indonesia seperti sop buntut goreng dan ikan pedas, namun penampakan dan rasanya sudah dimodifikasi. bagaimana rasanya? ya.. biasa lah makanan kafetaria…

Mengenai Yoghurtnya… hmm… Saya memang bukan penikmat Yoghurt sehingga buat saya semua yoghurt ya biasa aja, masam… Tetapi informasi dari penyuka Yoghurt adalah bahwa Yoghurt Cimory adalah salah satu yang terenak yang pernah dia rasakan di Indonesia. Ini dari pecinta yoghurt lho.. yang udah ngetes banyak model yoghurt..

Harganya gak begitu tau, karena ditraktir.. walau demikian sepertinya standar harga restoran (bukan kaki lima) karena yang keluar untuk 4 orang lembarannya ratusan ribu.. Yoghurtnya sendiri sih katanya harganya standar yoghurt lah… yang saya sendiri ga tau karena memang ga pernah beli yoghurt..

intinya tempat ini cocok untuk istirahat keluarga terutama yang bawa anak-anak dalam perjalanan, apalagi yang cepat bosan.  Memang di jalan antar kota  yang dicari adalah bersantai sejenak untuk lanjut jalan lagi…sukur bisa juga sekalian ngisi perut, dan bisa sekalian beli bekal.

Read Full Post »

Warteg “21”

warteg21 Warteg adalah singkatan dari “Warung Tegal”. Di Jakarta biasanya merupakan sebuah “rumah makan” sederhana, dan alat makan seperlunya, cukup bagi tamunya untuk datang, makan, dan pergi lagi. Ngobrol-ngobrol di dalam warteg juga ga enak karena jarak antar tamu kalau warteg sedang penuh ya kira-kira pada umumnya sekitar 30-50 cm. Semua percakapan kita ikut didengarkan seisi warteg.

Kata warung tegal sih kalau di Jakarta sih berasal dari warung nasi yang biasa dikelola orang dari Tegal. Itu dulu. Sekarang walau masih banyak yang dikelola orang Tegal, namun sudah banyak juga yang pengelolanya bahkan bisa dari luar pulau Jawa.

Warteg yang dibahas kali ini adalah Warteg dengan papan nama neon di depannya yang bertuliskan “Warteg 21” sebagai nama Warteg ini (biasanya Warteg ga ada namanya). Tahun 90-an Warteg ini memang juga belum ada namanya, sebagaimana Warteg-warteg lainnya. Namun setelah lama tidak makan di warteg ini, tiba-tiba sudah terlihat lebih rapih, bahkan dengan papan nama neon!… berarti bisnisnya lancar nih…

Warteg ini sudah lama bercokol di daerah ini, bersebelahan dengan SMU 21, Kayu Putih Jakarta Timur, dekat kantor kelurahan Kayu Putih, dekat Pacuan Kuda Pulomas, di antara Rawamangun dan Kelapa Gading. Karena sudah lamanya, warteg ini sudah lumayan dikenal warga sekitar, terutama siswa dan  lulusan sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya, yaitu SD 01, SMP 99 dan SMU 21. Saat ini, mungkin dikarenakan jalan di depannya lumayan luas sehingga dapat dijadikan lahan parkir (dengan tukang parkir berseragam) yang nyaman, banyak juga didatangi para supir taksi, selain  juga beberapa bapak-bapak necis yang mungkin biasanya makan di restoran sekelas minimal Satay Khas Senayan. Mungkin orang tua siswa. Selain itu terkadang ada juga anak-anak remaja berdandan “gaul” yang makan di sini. Walau berpakaian dan asesoris yang tidak murah, lauk yang mereka ambil paling hanya sayur, tahu dan tempe. Tebakan saya, mereka adalah pelajar sekolah sekitarnya yang uang jajannya terbatas.

Makanannya ialah sebagaimana halnya warteg lainnya. Ada ayam sayur, sayur tempe, tempe goreng, tahu goreng, bakwan udang, bakwan, ikan goreng, terong, dan lain sebagainya. Lumayan beragam untuk sekelas warteg. Rasa makanannya agak sedikit lebih “berasa” daripada warteg-warteg pada umumnya. Kalau merasa rasanya kurang “menggigit”, disarankan untuk menambahkan kecap manis yang tersedia di meja, atau minta sama pelayannya.. akan ada peningkatan rasa yang cukup signifikan walau kecapnya hanya sedikit.

Harganya tidak diketahui dengan pasti, karena tidak ada daftar harganya, tetapi makan dengan nasi, lauk sayur nangka, bakwan udang, tempe dan telur pedas, serta minum es teh tawar (pahit?) dikenakan bayaran Rp. 9000 (kurang dari US$1). Lumayan murah dibandingkan misalnya beli ayam bakar di seputaran Jakarta Selatan, yang dihargai Rp. 15.000-an untuk nasi,lalap dan sepotong ayam (paha bawah dan atas).

Terakhir, ini warteg.  Jangan dibandingkan dengan restoran makanan rumah di level yang lebih tinggi, karena pada umumnya, tambah kualitas, tambah biaya. walau juga tidak menutup kemungkinan bertemu restoran mahal namun rasanya ga keruan. Ditanggung tutup dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.

Read Full Post »

Tetapi kebanyakan sepertinya adalah kecelakaan yang sebenarnya dapat dihindari, kalau saja peraturan lalu lintas dipatuhi. Ngebut di jalan dalam kota yang kecepatan maksimumnya kalau gak salah 60 km/jam, zig-zag, masuk jalur Trans-Jakarta, dan lain-lain…

Entah mengapa sepertinya sekitar tahun 1980-90-an saya jarang menemui kecelakaan selama berkelana di rimba lalu lintas Jakarta. Namun akhir-akhir ini sering sekali..

Ini baru saja terjadi hari ini:

ambulans-tabrakan

Itu Ambulans yang di Jalur TransJakarta, menabrak halte. Dari depan terlihat kacanya hancur berantakan di jalur tersebut. Tidak diketahui apakah ada yang terluka.

Kejadian tersebut terjadi di halte TransJakarta Jalan Pramuka Jakarta, di daerah pasar Genjing, menyebabkan lalu lintas merayap dari mulut underpass Pramuka… karena orang yang lewat pada nonton! mending kalo nolong,.. cuma nonton, bikin macet pula.. dan karenanya sayapun sempat mengambil ponsel dan memotretnya…

Yang jadi pikiran saya adalah, mungkin kalau Ambulans buru-buru, ya gak apa apa lah lewat jalur TransJakarta… tapi kok nabrak halte ya? ngantuk? … eh iya… jadi bertanya-tanya gimana nasib pasien di dalamnya ya?

Read Full Post »

Sate ayam di Jalan Sabang

Banyak yang bilang, katanya sate ayam pinggir jalan yang paling enak adalah yang di Jalan Sabang Jakpus.. katanya lagi nih, mereka berdagang di sana udah dari taun 60-an…

Akhirnya tadi malam kami iseng mau makan sate ayam di sana. Dapet info katanya sate ayam yang dari taun 60-an itu ada di dekat ujung jalan yang ke arah menteng.. sehingga kami datang dari arah Menteng. Wah.. kemacetan di mulai dari mulut jalan Sabang! sulit sekali dapat parkir.. setelah bermacet ria sekitar 10-15-an menit, akhirnya dapat parkir hampir di ujung jalan yang ke arah Monas… duh!

Setelah turun dari mobil, jarak 150-an meter sepertinya jauh sekali.. malas jalan kaki ke sana.. Akhirnya kami putuskan untuk beli sate ayam yang dekat dari tempat parkir kami saja..

Ternyata,.. cukup enak juga lho.. sepertinya ini adalah salah satu sate yang paling enak yang pernah kami makan… tentu kami ga bisa bandingkan dengan yang di ujung sebelah sana tadi,.. yang sudah dari tahun 60-an, karena memang blom pernah nyoba.. tapi kalau di adu dengan Satay House aja sih,.. boleh lah.. Apalagi kalau diadu dengan “sate ajam”  di restoran Indonesia di Belanda.. waduhh… ga banget..

Berikut ini adalah foto-fotonya:

sate sabang

sate sabang

sate sabang

Harganya Rp. 12.000 perporsi, dapat sate ayam 10 tusuk dan lontong..

fotonya pakai kamera ponsel jadul,.. jadi kualitasnya.. hehehe.. tak dijamin…

Read Full Post »